MENOLAK PEMISKINAN DAN PEMBUSUKAN FILSAFAT DI RUANG PUBLIK

by -696 views
sumber foto: zonareferansi.com

SULAWESIPOS.COM – Kehidupan kebangsaan kita cenderung mengindikasikan suatu kemandekan, jika bukan kemunduran. Ingar-bingar di banyak ruang publik tidak sedang menandakan suatu kegairahan diskursus, melainkan justru lebih mengekspresikan hasrat dominasi sebagian pihak untuk menang sendiri.

Lapangan politik begitu panas oleh kontestasi elektoral, yang telah diringkus menjadi suatu zero sum game. Gejala politisasi atas hampir setiap hal bukan hanya telah mempersempit ruang-ruang privat, kebebasan ekspresif pun terancam intrusi keserakahan politik. Tirani mayoritarian mengintip, dipicu hasutan para demagog yang membawa iming-iming gula-gula kekuasaan.

Pengebawahan akal sehat tampak dari berbagai praktik sofisme atau kelihaian bersilat lidah [Sofisme. Istilah Sofis mengacu kepada para guru atau penulis pada zaman Yunani Kuno yang berbicara mengenai berbagai tema dengan bermodalkan kemampuan bersilat lidah dan argumentasi yg manipulatif; tujuan seorang Sofis adalah untuk memperoleh bayaran dari pihak yang menggunakannya, dan bukan agar pendengarnya memperoleh pengetahuan yg benar], penyampaian kabar bohong [disinformasi], serta ujaran kebencian.

Tidak hanya dalam politik, praktik-praktik serupa membahana lewat publikasi media-media massa dan percakapan media sosial. Alih-alih mendorong diskursus publik berdasarkan hikmat kebijaksanaan, sebagian pihak malah membajak ruang publik demi menegaskan demarkasi permusuhan kawan dan lawan.

Berhadapan dengan kondisi-kondisi di atas, kelompok yang tergabung dalam komunitas pegiat filsafat Indonesia menyatakan sikap;

1). Menolak praktik sofisme, yang tidak lebih daripada suatu permainan tipu daya berbungkus kelihaian silat lidah dan permainan kata, untuk mengecoh lawan bicara dengan mengajukan dalil-dalil seolah argumentasi, padahal sejatinya bukan.

2) Menolak kesesatan berpikir, dengan mengabaikan kaidah-kaidah berlogika, dan penyebarluasannya sekadar demi pembenaran kepentingan sendiri.

3) Mendorong praktik berpikir logis sekaligus kritis demi menghindari kesesatan berpikir dan dogmatisme politik tidak bernalar.

4) Menolak penyebarluasan disinformasi dan pesan-pesan kebencian, yang bukan hanya merusak kepercayaan silang, melainkan pula mendorong permusuhan dan menegasikan alasan berdirinya Indonesia.

5) Mendorong perwujudan diskursus publik, yang hidup dari pergulatan beragam pemikiran kritis serta mampu menyediakan alternatif solusi atas masalah-masalah bersama.

6) Mendorong praktik politik demokratis, termasuk dalam kontestasi elektoral, dengan bersandar pada norma-norma etis permusyawaratan rakyat.

Jakarta, 13 Februari 2019

Tertanda,
1. Fitzerald K Sitorus (Alumnus Goethe Universitat, Frankfurt, Jerman)
2. Hendar Putranto (Ketua Pengurus Harian Serikat Dosen Indonesia, alumnus STF Driyarkara Jakarta)
3. Donny Gahral Adian (Dosen Filsafat UI)
4. Alexander Aur (Dosen Filsafat UPH)
5. Amin Mudzakkir (mahasiswa S3 STF Driyarkara dan peneliti LIPI)
6. Yustinus Prastowo (Lingkaran Jakarta, alumnus STF Driyarkara Jakarta)
7. Sunaryo (Dosen Universitas Paramadina, alumnus STF Driyarkara Jakarta)
8. Arif Susanto (Lingkaran Jakarta, alumnus STF Driyarkara Jakarta)
9. Edisius Terre (alumnus STF Driyarkara Jakarta)
10. Edi Wibowo (alumnus STF Driyarkara, Jakarta)
11. Ignatius Haryanto (Alumnus STF Driyarkara)
12. Chavchay Syaifullah (Sastrawan, Direktur Eksekutif RICE, Alumnus STF Driyarkara)
13. Ruth Indiah Rahayu (Mahasiswa STF Driyarkara)
14. Aswin Simatupang (alumnus STF Driyarkara)
15. Anjar Dwi Astono (alumnus STF Driyarkara)
16. Reza W. Martunus (Arsitek, Alumnus STF Driyarkara)
17. RBE Agung Nugroho (Alumnus STF Driyarkara)
18. Iqbal Hasanuddin (Dosen Filsafat UIN Syarif Hidayatullah Jakarta)
19. M. Subhi-Ibrahim (Dosen Falsafah dan Agama Universitas Paramadina, alumnus STF Driyarkara)
20. Androe Sudibyo (Gnostikus, alumnus UGM
21. P.Setiohutomo ( alumnus STF Driyarkara)
22. Rika Febriani (alumnus STF Driyarkara)

Editor: Zainal Marzain