ORASI 72 TAHUN MILAD HMI “MENJADI INTELEKTUAL, BERJUANG DENGAN KEYAKINAN”

by -1,693 views
sumber foto: qureta.com

Oleh: Dr Syaifullah Muhammad, ST, M.Eng.

Ketua Umum HMI Cabang Banda Aceh 1995-1996, Kepala Atsiri Research Center (ARC) Universitas Syiah Kuala Dosen Jurusan Teknik Kimia FT Unsyiah

Gelora Intelektual dari Gampong Gayo

Assalamualaikum Wr. Wb. Kita bersyukur kepada Allah SWT yang senantiasa memberi rahmat dan kasih sayang-Nya kepada kita semua. Shalawat beserta salam, selamat dan sejahtera kita sampaikan kepada Rasullullah Muhammad SAW beserta keluarga dan sahabatnya sekalian.

Dengan izin Allah SWT, kita berkesempatan hadir pada malam hari ini, di sebuah tempat yang diberi nama Gampong Gayo. Pemilihan tempat ini terasa unik dan tentu saja dengan pertimbangan. Kita semua tau tempat ini sesungguhnya adalah warung kopi, sebagaimana lazimnya warung kopi di tempat yang lain. Tapi warung kopi ini unik karena diberi nama dengan Gampong Gayo. Saat warung kopi didefenisikan sebagai gampong atau kampung, ada nilai, ruh yang ingin disisipkan ke tempat ini. Semangat untuk menjadikan warung kopi sebagai sebuah entitas gerakan kebersamaan. Gerakan untuk memadukan sumber daya, dari entitas kecil menjadi sebuah energi untuk perubahan yang lebih baik. Sering kita alami setiap tahun, ada gerakan masif masyarakat kita kembali ke kampung. Saat Idul Firi misalnya, banyak orang pulang ke kampung dengan antusias. Ada kerinduan besar pada suasana kampung, bertemu keluarga, melihat rumah tua, halaman tanah dengan keharuman rumput dan tanaman, aliran sungai kecil dengan suara burung yang menyegarkan nafas, telinga dan mata. Meresap dalam pori indra dan menjadi penyembuh bagi jiwa-jiwa yang sakit. Kampung adalah entitas yang menyembuhkan, menata dan mengharmonikan kembali semangat untuk kemudian bertebaran ke tempat kita bekerja dengan semangat dan kekuatan baru menebar kebaikan bagi agama, bangsa dan negara kita. Dari kampung semangat intelektual HMI kita gelorakan kembali.

72 Tahun Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) adalah momentum untuk bertafakkur. Merenungi sejarah masa lalu dan masa kini, membawanya ke langit, ke sebuah alam abstrak yang memungkinkan terjadinya evaluasi mendalam yang melibatkan potensi hakiki kemanusiaan, akal nafsu dan hati nurani. Kontemplasi potensi kemanusiaan dalam tafakkur ini harus membawa kita kembali ke bumi, alam nyata, dengan konsep yang jelas untuk kerja-kerja kemanusiaan kita di masa depan. Kerja untuk Indonesia, kerja untuk Islam. Ke-Islaman dan Ke-Indonesiaan adalah keniscayaan bagi HMI, bagi kadernya dan bagi alumninya. Kita di HMI diingatkan dengan prinsip, bahwa Allah Yang Maha Pencipta telah mentakdirkan Indonesia bagi HMI untuk mengabdi di dalamnya. Indonesia adalah wadah bagi HMI untuk mewujudkan terbinanya insan akademis, pencipta, pengabdi yang bernafaskan Islam dan bertanggung jawab atas terwujudnya masyarakat adil makmur yang diridhai Allah SWT. Sebuah tujuan yang telah menjadi energi moral bagi kita selama 72 tahun. Energi yang membuat kita menjadi kader-kader tangguh pantang menyerah. Kader yang cinta kepada ilmu pengetahuan dan benci dengan kebodohan. Kader yang terampil memilah dan memilih antara kebaikan dengan keburukan. Kader yang ikhlas bekerja karena Allah bukan karena bayaran. Kader yang berani menyatakan yang benar adalah benar, yang salah adalah salah. Kader yang senantiasa sabar dalam setiap perjuangan. Inilah yang kita sebut seorang intelektual yang beriman.

Intelektual : Cerdas, Ikhlas dan Bijaksana

Pertanyaannya adalah, apakah kita sudah menjadi seorang intelektual?. Intelektual sejatinya tidak harus seorang sarjana, master, doktor atau profesor. Semua gelar ini hanya sebuah tanda formal ketersekolahan, bukan tanda keterdidikan apalagi terkategori intelektual. Menjadi doktor atau profesor bukan jaminan menjadi intelektual. Menjadi peneliti di laboratorium dan masyarakat dengan segudang data dan informasi belum membuat kita menjadi intelektual. Menjadi profesional dengan keahlian yang tinggi tidak membuat kita menjadi intelektual. Intelektual adalah entitas inklusif dengan latar belakang bisa apa saja. Intelektual bisa dari masyakat umum, bahkan orang-orang miskin yang tidak punya rumah sekalipun. Intelektual tidak tergantung seberapa banyak kita memiliki pengetahuan.

Intelektual ditentukan oleh sebesar apa keinginan, kemampuan dan kapasistas kita berjuang untuk memperoleh ilmu pengetahuan. Intelektual tidak berdasarkan seberapa banyak gelar yg kita kuasai, tapi tergantung seberapa banyak orang lain memperoleh manfaat kebaikan dari pengetahuan yg kita miliki. Seorang doktor bukan intelektual kalau tidak berusaha keras meningkatkan kapasitas diri, menyebarkan pengetahuannya dan membuat orang lain menjadi doktor juga. Jika kita seorang profesor intelektual, maka yang harus dilakukan adalah mendukung orang lain untuk menjadi profesor juga bukan sebaliknya menghambatnya.

Intelektual memiliki kapasitas besar utk merubah pemikirannya sendiri, melakukan refleksi dan terbuka untuk pemikiran lain yg lebih baik. Intelektual memiliki kemampuan sangat baik dalam melakukan refleksi diri, oto kritik secara terus-menerus terhadap pemikirannya sendiri sebagaimana juga dilakukan terhadap orang lain untuk suatu perubahan yang lebih baik. Intelektual memiliki kemampuan khusus untuk terus menemukan kebenaran. Intelektual memiliki kemampuan untuk melihat realitas dan fakta-fakta dari berbagai perspektif. Intelektual tidak hanya peduli dengan dirinya sendiri, tapi juga memberikan kempuannya untuk membangun masyarakat. Dalam satu kalimat, intelektual adalah orang yang cerdas, ikhlas sekaligus bijaksana. Dengan kacamata inilah kita akan melanjutkan uraian ini, melihat relasi kehadiran intelektual, jejaring yang dibangun serta kaitannya dengan kesejahteraan masyarakat khususnya di Aceh.

Kita sering mendengar, orang cerdas bertemu orang cerdas, ibarat batu bertemu batu. Saat berdekatan, bergesekan, saling berbenturan, memercikkan api, saling mengecilkan dan meniadakan. Tapi orang bijaksana bertemu orang bijaksana, ibarat air bertemu air. Saling menerima, berangkulan, menyatu, saling menguatkan dan membesarkan. Dan bagi kita Intelektual beriman, kecerdasan, keikhlasan dan kebijaksanaan tersebut terbentuk, terjaga dan berkembang dengan nafas wahyu.
Perguruan Tinggi dan Intelektualitas

Apakah kita di Aceh, kekurangan orang pintar dan cerdas?. Tidak, kita punya cukup orang-orang pintar, untuk tidak mengatakan berlebihan. Kita memproduksi banyak sekali orang pintar setiap tahunnya. Sebagai contoh, Universitas Syiah Kuala memiliki sekitar 23 ribu mahasiswa aktif tiap tahunnya, dan menghasilkan sekitar 2000-3000 sarjana pertahun. Unsyiah juga memiliki 1450 orang dosen dengan kalifikasi master, doktor dan profesor. Unsyiah, UIN Ar-Ranirry, dan berbagai Perguruan tinggi negeri dan swasta lainnya dapat dipastikan memiliki ribuan orang dosen yang luar biasa cerdas. Belum lagi dari aparatur pemerintah, kalangan dunia usaha profesional dan masyarakat. Menurut Badan Pusat Statistik (BPS, 2017) Aceh saat ini memiliki 165.904 orang Pegawai Negeri Sipil belum lagi kalau ditambah aparatur pemerintah non PNS. Ini Artinya Aceh memiliki PNS No. 7 terbanyak dari 34 propinsi di Indonesia atau nomor 2 di Sumetera setelah Sumatera Utara. Aceh tidak kekurangan kelas menengah lulusan perguruan tinggi, orang-orang pintar dan cerdas, bahkan dalam beberapa aspek kita memilikinya lebih banyak dari propinsi lain. Tapi pertanyaannya, apakah Aceh memiliki cukup para intelektual?. Sungguh, ini pertanyaan yang tidak mudah dijawab.

Universitas Syiah Kuala dan UIN Ar-Ranirry, dua perguruan tinggi yang menjadi jantungnya Aceh dan menjadi penghasil utama para intelektual Aceh. Apakah kedua perguruan tunggi ini sudah melakukan perannya sebagai jantung yang memastikan darah segar mengalir pada sendi-sendi kehidupan masyarakat Aceh?. Apakah darah segar yang dihasilkan dari Unsyiah dan UIN serta perguruan tinggi lainnya mampu membersihkan kotoran yang ada ditubuh Aceh?. Atau jangan-jangan darah yang dihasilkan oleh jantung hati rakyat Aceh ini belum cukup bersih sehingga belum mampu untuk membersihkan. Perguruan tinggi asik dengan pembangunan dan pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Kita asik bercengkrama di langit ilmu pengetahuan dengan berbagai penelitian dan publikasi ilmiah. Sangking asiknya kita tersesat di awan dan tidak tau lagi jalan untuk turun ke bumi. Kita habiskan energi untuk membangun iptek tapi kita lupakan bahwa iptek harus membangun. Iptek harus membangun masyarakat, bangsa dan negara kita. Mungkin ini penyebab Aceh masih menduduki peringkat 6 propinsi terrmiskin di Indonesia, dan peringkat 1 termiskin di Sumatera (BPS, 2018).

Karena itu harus dipastikan bahwa perguruan tinggi bukan hanya mampu menghasilkan orang-orang cerdas tapi juga menghasilkan kalangan intelektual, intelektual yang beiman. Dalam beberapa hal kita optimis dengan perkembangan Perguruan Tinggi di Aceh. Secara formal misalnya, Unsyiah terkategori Perguruan Tinggi dengan Akreditasi A yang artinya setara dengan perguruan tinggi ternama lainnya di Indonesia. Unsyiah juga telah naik peringkat dari Universitas Satuan Kerja (Satker) Kemenristekdikti menjadi Universitas Badan Layanan Umum (BLU) dengan berbagai dampak kelebihan dan kelemahan pada keduanya. Unsyiah juga menjadi salah satu Perguruan Tinggi dengan peringkat publikasi internasional terbaik di sumatera dan nasional. Unsyiah memiliki pusat riset dan pusat unggulan iptek nasional, memiliki perpustakaan yang menjadi salah satu perpustakaan yang terbaik di Indonesia dan berbagai prestasi lainnya. Hal yang lebih kurang sama juga terjadi pada perguruan tinggi lainnya di Aceh. Tapi berbagai keunggulan tersebut belum cukup untuk mendongkrak propinsi Aceh menjadi terdepan untuk kesejahteraan rakyat.

Kampus kita di Aceh, belum cukup mewarnai arah pergerakan masyarakat dan kebijakan pembangunan. Aspek pengabdian dalam tri dharma perguruan tinggi belum memiliki energi gerak memadai bagi insan kampus untuk melakukan penetrasi iptek secara sistemik dalam kehidupan masyarakat. Kita masih berkutat dengan aspek pendidikan dan penelitian dengan berbagai target kinerja yang cukup ketat. Sayangnya dalam beberapa aspek, keketatan itu hanya beroreantasi administratif belaka yang sangat banyak menguras energi. Rekognisi prestasi seorang dosen misalnya, sangat ditentukan oleh seberapa banyak dosen meneliti dan melakukan publikasi. Aspek ini memiliki pembobotan sangat tinggi dalam kepangkatan seorang dosen. Sayangnya, aktivitas penelitian dan publikasi pun menjadi perangkap tersendiri dengan berbagai kerumitan administratif. Dosen yang secara generik tidak paham dengan berbagai laporan keuangan misalnya, tiba-tiba dipaksa menjadi semacam kontraktor yang mengumpulkan berbagai faktur-faktur pembelian bahan penelitian yang begitu banyak, ini adalah kerumitan tingkat dewa bagi seorang dosen. Ujungnya laporan penelitian jauh lebih memeras energi dibandingkan kajian penelitiannya sendiri. Tidak heran kemudian sebagian besar hasil penelitian dosen masih berada pada Tingkat Kesiapan Teknologi (TKT) yang rendah.

Keletihan ini berdampak juga pada dharma pendidikan dan pengajaran. Energi dosen nyaris habis dan sebagian besar tidak mampu lagi mengembangkan metodologi pendidikan yang kreatif dan inovatif. Pada gilirannya proses belajar menjadi aktivitas rutin yang membosankan diruangan sempit dan pengab. Tidak heran kemudian belajar menjadi aktivitas yang menakutkan bagi banyak mahasiswa.

Gejala yang sama juga terjadi pada aspek dharma pengabdian masyarakat. Jalur yang harusnya menjadi sarana penting penetrasi iptek di tengah masyarakat juga menjadi hambar. Program pengabdian dosen tidak cukup mampu menjawab kebutuhan masyarakat. Sebagian hanya beroreantasi agar dana hibah pengabdian dapat diperoleh. Analisa kebutuhan untuk tema pengabdian terasa dangkal dan jangka pendek. Proyek pengabdian banyak diakhiri oleh seremonial kehadiran institusi kampus saat temu masyarakat, dan setelah itu selesai. Beberapa program pengabdian multi tahun yang dilakukan juga lebih kurang bernasip sama. Tidak memberi energi gerak yang berarti bagi peningkatan kesejahteraan masyarakat.

Kerumitan-kerumitan di atas jelas berdampak pada kapasitas intelektual kampus. Sebagian terjebak dengan individualitas untuk kemudian asik dengan mobilitas vertikal sendiri. “Yang penting cepat profesor”, merupakan adagium yang lazim di kalangan akademisi. Keberhasilan individu menjadi hasrat yang sulit dikendalikan. Peluang diperebutkan, terkadang dilakukan dengan cara yang jauh dari nilai keadilan. Sejatinya, kita bisa berhasil bersama. Kita maju tidak berarti orang lain harus mundur. Kita bisa maju bersama, meraih keberhasilan bersama. Keberhasilan secara berjama’ah nilainya jauh di atas keberhasilan secara sendiri-sendiri.

Sebagian lainnya berada pada wilayah skeptis yang sama sekali tidak peduli dengan mobilitas karir. Padahal keduanya adalah keharusan yang melekat pada akademisi. Sebagian akademisi malah melompat lebih jauh ke luar gelanggang. Memanfaatkan era media sosial yang sedang melanda bangsa. Era media sosial saat ini telah memungkinkan siapapun mengomentari apapun. Dengan berbekal informasi instan dan sedikit nalar, maka setiap orang berpeluang menjadi pakar. Beda pakar instan dengan pakar sungguhan semakin samar dan sumir. Ujungnya hamburan komentar yang hambar itu menjadi kebenaran, tergantung siapa yang lebih ngotot dengan hujan forward dari mana mana. Menjelang pilpres, pertunjukan arogansi yang merendahkan intelektualitas dipertontonkan dimana-mana.

Saya ingin memberi contoh, sekali lagi ini hanya sekedar contoh. Ada fenomena menarik menjelang pemilihan presiden. Debat presiden yang kasat mata, kasat telinga, mudah dipahami dengan otak dan hati kita dengan kelebihan dan kekurangan yang jelas dari kedua calon. Tapi bisa dinarasarikan berbeda hasilnya secara diametral oleh akademisi. Akademisi A selalu membenarkan dan memenangkan capres 1. Sebaliknya akademisi B selalu membenarkan dan memenangkan capres 2. Akademisi A selalu memposting kebaikan capres 1, dia menafikan fakta sebaliknya. Demikian juga akademisi B, selalu menyebarkan kebaikan capres 2 dan mengabaikan kekurangannya. Bagaiamana mungkin ini terjadi di kalangan akademisi?. Ini jelas pelecehan terhadap akal sehat. Bagi saya ini adalah indikasi sangat kuat penurunan intelektualitas insan kampus, karena kedua capres pasti ada kelebihan dan kekurangan. Sebaliknya, apakah akademisi harus netral?. Pasti sulit sekali menjadi netral, hampir tidak mungkin dan memang tidak perlu netral. Tapi pemihakan harus dilakukan dan diwujudkan dibilik suara. Sebagai akademisi intelektual, melekat padanya untuk menyampaikan yang benar adalah benar dan yang salah adalah salah. Akademisi intelektual harusnya berkonsentrasi untuk mengawal jalannya pemerintahan hasil pilpres, agar pemerintah setia memperjuangkan nasip rakyat, siapapun pemenang pilpresnya.

Dengan kondisi ini, adalah sulit mengharapkan insan kampus melakukan fungsinya sebagai agen perubahan sistemik untuk kesejahteraan rakyat. Insan kampus masih perlu meningkatkan komposisi intelektualitas agar pertarungan bisa dimenangkan oleh akal sehat dan hati nurani. Idealnya, perguruan tinggi harus melakukan penetrasi mendalam pada berbagai sendi pembangunan. Kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi yang dimiliki perguruan tinggi harusnya menjadi penggerak peningkatan kesejahteraan masyarakat. Hampir diseluruh dunia, tidak ada negara yang maju tanpa sentuhan ilmu pengetahuan dan teknologi. Belajar dari banyak para negara maju ini, mereka dulunya juga terkebelakang dalam berbagai aspek kehidupan. Tapi kemudian, orang-orang terdidiknya turun ke tengah-tegah masyarakat, memberikan pengetahuan dan keterampilannya untuk masyarakat, kemudian dengan dukungan pemerintah yang baik mereka bertransformasi menjadi negara maju yang mayoritas masyarakatnya sejahtera.

Kampus harus mencetak intelektual. Perguruan tinggi harus memastikan bahwa proses yang dilakukan mampu menghasilkan intelektual, bukan hanya sekedar ilmuan. Proses kampus perlu memastikan keterdidikan secara mendalam. Para sarjana yang dihasilkan harus tercerahkan, merdeka pikirannya, terkendali nafsunya dan berpihak pada kebenaran hatinya. Untuk itu, diperlukan kualifikasi dosen yang handal serta proses tambahan kepada para mahasiswa lebih dari yang sudah dibakukan dalam kurikulum. Dosen-dosen harus dibekali dengan metodologi mendidik dan mengajar yang tepat dan kreatif sesuai perkembangan masa. Sebagai contoh, dua tambah dua akan selalu empat, tapi bagaimana empat itu disampaikan kepada mahasiswa sehingga ada ruh yang menggerakkan, menyentuh hati dan otak, terhunjam dalam pada kesadaran relegiusitas mahasiswa sehingga mengamalkan empat itu secara benar, itu tergantung metodologi. Kampus sering menghabiskan dana besar untuk merombak kurikulum, tapi sedikit dana untuk melatih dosen menjadi pendidik yang profesional yang terampil dalam mendidik.

Yakin dan Sinergisitas

Tidak dapat dipungkiri sumbangsih perguruan tinggi cukup besar dalam perjalanan sejarah Aceh. Tapi dampak holistik kemajuan memang tidak mungkin ditanggung oleh perguruan tinggi semata. Seperti jantung yang tidak bisa berfungsi baik sendiri dalam tubuh, diperlukan juga hati dan ginjal untuk membersihkan, diperlukan lambung sebagai sumber energi dan berbagai organ penting tubuh lainnya. Perguruan Tinggi memerlukan pihak lain. Perguruan tinggi harus bersinergi dengan pemerintah, para profesional dan dunia usaha, serta kukuatan dari masyarakat. Kita menamakannya Quadrople Helix Approach, sebuah sinergisitas empat komponen penting menuju perubahan yang lebih baik. Sinergisitas ini sejatinya memiliki akar yg kuat dalam tradisi kearifan hidup kita. Kemajuan bisa diperoleh dari ilmunya para ulama (intelektual), keadilan pemimpin (pemerintah), hartanya orang kaya (pengusaha profesional) serta keta’atan, kejujuran dan kerja keras maayarakat.

Lalu apakah titik lemah ini hanya ada di kampus?. Tentu saja tidak. Banyak riak-riak intelektualitas yang bergejolak di luar kampus. Banyak organisasi, lembaga riset, lembaga pemerintah dan swasta yang secara umum memperlihatkan kesakitan dari intelektualitas. Mereka terperangkap dalam rutinitas aktivitas yang miskin improvisasi dan inovasi. Penggunaan anggaran pembangunan terasa tumpul, berkutat di wilayah itu-itu saja untuk mengejar serapan anggaran dan pertanggung jawaban, tapi miskin kreatifitas dan dampaknya kepada masyarakat. Sering terjadi, usulan program yang sejatinya bermakna kuat untuk pergerakan kesejahteraan masyarakat hilang dalam proses usulan yang berjenjang-jenjang itu. Atau kalaupun dilaksanakan, hanya pada permukaannya saja, lemah keyakinan, lemah daya dobrak.

Pernahkan kita membayangkan orang-orang pendaki gunung. Dari jalur apapun mereka bergerak, dengan perencanaan, potensi dan kerjasama. Akal sehat akan mengatakan bahwa mereka akan sampai di puncak. Tantangan memang akan berbeda-beda karena jalur yang dipilih berbeda. Tapi pasti akan sampai ke puncak. Kuncinya adalah yakin dan konsisten dengan jalur yang dipilih itu. Hadapi dan pecahkan apapun hambatan yang dihadapi, terus fokus untuk mencapai puncak dari jalur itu. Yang sering terjadi dalam program pembangunan, setelah perencanaan, dilaksanakan, di pertengahan jalan berhadapan dengan beberapa hambatan, menyerah dan kemudian mencari jalur lainnya. Buat lagi program baru, jalankan lagi, bertemu hambatan lagi, buat lagi jalur baru. Begitu seterusnya hingga pencapaikan puncak yaitu kesejahteraan masyarakat, menjadi kabur. Tidak heran meski dana pembangunan Aceh mencapai 46-48 Trilyun per tahun, tapi kemiskinan masih menjerat masyarakatnya. Tidak cukup hanya perencanaan, strategi dan kecerdasan dalam membangun. Aceh perlu keyakinan untuk bekerja, kita perlu intelektual yang beriman untuk berjuang.

Apakah tidak ada narasi sebaliknya dari yang teruraikan di atas?. Tentu saja ada. Selalu ada mata air ditengah sahara. There is always light at the end of the tunnel-selalu ada cahaya di ujung terowongan. Banyak masyarakat Aceh dari berbagai kalangan baik akademisi, aparat pemerintah, kalangan profesional, politisi, tokoh-tokoh organisasi, mahasiswa dan pemuda yang secara individu memiliki kapasitas mempuni sebagai intelektual. Tapi mereka terserak dipojokan, di lorong-lorong sunyi, menggelorakan kecintaannya pada ilmu pegetahuan, membangun komunitasnya dalam skala kecil dan merawat cita-citanya untuk transformasi sosial bagi kesejahteraan. Tapi mereka tidak punya cukup energi, wewenang apalagi kekuasaan untuk menggerakkan perubahan. Beberapa yang sudah menempati posisi strategis di puncak, tetap menghadapi kesulitan dari kuatnya status quo dan kemiskinan struktural birokrasi yang parah.

Yang harus dilakukan adalah memperbesar arus intelektual yang bersinergi di berbagai institusi. Mengkader dan memperbanyak intelektual dalam setiap sistem sehingga memungkinkan terjadinya perubahan. Kita memerlukan kontribusi dan pengorbanan dalam membangun sinergi. Analogi tiang beton patut dicermati. Tiang beton yang besar, kuat dan indah sejadinya dibangun dengan kontribusi dan pengorbanan. Semua kita tau tiang beton itu terjadi karena ada partisipasi dan kontribusi dari besi, pasir, kerikil, semen dan air. Mereka berbaur dengan karakteristik masing-masing. Karakteristiknya tidak banyak hilang dalam sinergisitas ini. Besi tetap dengan sifat besinya, kerikil juga tetap kerikil, pasir dan semen juga tetap eksis. Hanya, semua rela tidak tampil di depan di saat yang bersamaan. Besi, kerikil, pasir rela tidak terlihat dari permukaan. Semenlah yang menjadi cover luar dari tiang beton itu. Pengorbanan terbesar mungkin diberikan oleh air. Demi menyatukan semua komponen tiang betong, air rela hilang bentuk dan hilang dalam penguapan. Peran air biasanya dilakukan oleh orang-orang tua yang bijaksana. Pengorbanan untuk tidak tampil didepan adalah kebijaksanaan. Demi sebuah hasil yang bisa dinikmati bersama. Hasilnya adalah tiang beton yang kuat dan indah, menjadi penyangga utama peradaban. Sinergisitas perlu kontribusi dan pengorbanan.

Perguruan tinggi perlu mengidentifikasi, membina dan mengembangkan potensi intelektual kampus sejak dini. Untuk ini, perguruan tinggi jelas tidak bisa sendiri. Diperlukan sinergi dengan organisasi dan istitusi lain untuk bersama-sama mengembangkan potensi intelektual muda di kampus. Kehadiran organisasi mahasiswa dan pemuda yang berkarakter intelektual dan beroreantari untuk membangun ummat dan bangsa sangat diperlukan. Bukan hanya eksistensi organisasi mahasiswa intra kampus yang perlu dikembangkan tapi juga organisasi mahasiswa ektra kampus. Mereka perlu diberi ruang untuk beraktivitas dan berkreasi sebagai pendukung utama pembentukan kalangan intelektual sejak dini. Sejarah membuktikan banyak pemimpin baik di perguruan tinggi, pemerintahan, kalangan profesional, pengusaha, politisi dll dengan latar belakang aktivis organisasi memiliki keunggulan yang membanggakan saat mereka bekerja.

HMI, Yakin Usaha Sampai

Dalam konteks ini kehadiran organisasi kader seperti HMI menjadi sangat penting. HMI memiliki tradisi intelektual sangat kuat. Otimalisasi potensi kemanusiaan, akal, nafsu dan hati nurani (dhamir) sudah mulai dilakukan sejak malam pertama Latihan Kader I. Kemudian terus dirawat dan dikembangkan dalam LK2, LK3 dan berbagai aktivitas lainnya. Di HMI kita belajar mencintai ilmu, di saat-saat orang lain tidur dengan selimut yang nyaman, kader HMI berjaga siang ataupun malam, membaca ayat-ayat tuhan, memahaminya, mentafakkurinya dan kemudian menyimpannya dalam hati sanubari untuk kemudian bertekat untuk selalu mengamalkannya. Di HMI kita belajar menyampaikan pendapat, di HMI kita belajar menghargai pendapat yang berbeda. Di HMI kita dibebankan sejak dini tanggung jawab mewujudkan insan cita, insan akademis, insan pencipta, insan pengabdi, insan yang bernafaskan Islam dan insan yang bertanggung jawab.

Saya menghimbau kepada kita semua, khususnya untuk adinda-adinda yang masih menempa diri di HMI. Setialah dengan tujuan ini. Jaga persaudaraan sesama kader himpunan, karena kita tidak akan mampu mewujudkan tujuan dan misi mulia HMI sendirian. Jangan berlebih-lebihan berkata-kata dengan saudara kita seiman. Jangan melukai perasaan saudara kita sendiri, sekali hati terluka, dia memang mungkin untuk disembuhkan tapi tidak akan mungkin dapat dilupakan. Rendahkanlah suaramu, lembutkanlah tutur bahasamu, muliakanlah panggilan untuk saudaramu. Jangan ulangi kesalahan kami yang sudah senja ini. Dulu kami sering berlebih-lebihan dalam bersikap. Palu yang harusnya menjaga ketertiban, kami lemparkan. Kursi yang harusnya tempat beristirahat, kami hancurkan. Kami lupa, kami khilaf meski saat itu banyak yang sudah mengingatkan. Adinda semua, HMI adalah miniatur bangsa kita, cerminan masyarakat kita. HMI adalah rumah kita. Jika ada bagian rumah yang rusak, kitalah yang harus langsung turun tangan untuk memperbaikinya. HMI adalah wadah kita untuk belajar dan berjuang menjadi kader-kader ummat. Dalam perjuangan, sesama kader HMI ibarat satu tubuh. Jika ada bagian tubuh yang sakit maka bagian yang lain akan merasakannya. Untuk rekan rekan seperjuangan dan senior HMI. Kita sudah tidak muda lagi. Sudah saatnya kita mencari jalan pulang yang baik. Jalan pulang menuju rumah kita di sisi Allah SWT. Sisa usia hanya kita gunakan untuk memberi kebaikan untuk masyarakat kita. Kita juga perlu membimbing adik-adik HMI dengan bijaksana. Membina tanpa membunuh kreatifitas mereka agar mereka tumbuh menjadi intelektua-intelektual muda yang beriman. Dimanapun kita berada mari setia dan memperjuangkan tujuan dan misi HMI. Yang kita peroleh dibangku training LK1 dulu. Mari ikrarkan kembali sesungguhnya hidupku, matiku dan perjuangannku hanya untuk Allah SWT.

Adinda semua, kehidupan ini akan menjatuhkan kita di mana-mana. Setiap saat kejatuhan akan mengintai kita. Dan dapat dipastikan bahwa kita memang akan jatuh, sekali, dua kali, sepuluh kali bahkan seribu kali. Tapi ingatlah, bahwa bangkit dari kejatuhan itu adalah keniscayaan. Keputusan untuk bangkit itu ada di tangan kita. Kita yang menentukan bangkit atau tidak. Never give up, jangan pernah menyerah, jangan pernah berputus asa dari tali pertolongan Allah.

Dulu, saat saya masih anak-anak dan sering kesulitan dalam belajar, ummi saya selalu mengatakan “beu yakin neuk.., belajar harus yakin”. Selama puluhan tahun saya tidak mengerti fungsi keyakinan dalam belajar dan berusaha. Sampai kemudian HMI mengajarkan tentang sebuah kalimat yang luar biasa, “Yakin Usaha Sampai”. Tapi saya pun tetap tidak mengerti. Setelah 20 tahun meninggalkan HMI, baru saya bisa memahami bahkan merasakan bahwa sebuah usaha tidak cukup hanya mengandalkan tenaga dan kecerdasan. Usaha tidak cukup dengan kerja keras dan kerja cerdas. Usaha memerlukan keyakinan. Usaha sulit berhasil tanpa keyakinan. Keyakinan membuat kita tangguh dalam berusaha. Keyakinan menjadikan kita orang yang selalu bangkit dari kegagalan.

Saya membuktikannya sendiri. Saat saya berjuang untuk bisa belajar ke Australia nilai Bahasa Inggris saya sangat tidak memungkinkan. Tidak terhitung kegagalan test Bahasa Inggris yang saya alami. Sahabat saya, Martunis—yang juga seorang instruktur HMI—saat itu berkata “Saiful tidak berbakat dengan bahasa Inggris, lupakan Australia, ambil master di Unsyiah”, katanya. Tapi saya terngiang pesan orang tua dan motto HMI untuk yakin dalam belajar, yakin dalam berusaha, tidak ada kata menyerah. Dan akhirnya saat ini saya sudah berhasil menjadi doktor lulusan Curtin University Australia.

Bekerja untuk kepentingan orang banyak dengan keyakinan, menghargai semangat, potensi diri dan kerjasama, memasrahkan hasilnya pada ketentuan Yang Maha Mewujudkan adalah rahasia setiap keberhasilan. Saat ini, ketika siapa pun menurunkan semangat, memberikan tanggapan dan energi negatif untuk kita bekerja bagi masyarakat dan bangsa kita, maka jawablah “Kami Tidak Menyerah, Kami Yakin Usaha Sampai”.

Billahi Taufik Wal Hidayah
Wassalamu’alaikum Wr. Wb.
Banda Aceh, 5 Pebruari 2019