Keterlibatan Waria Dalam Ritual Adat Bone Ternyata “Insiden”

by -2,406 views

BONE, SULAWESIPOS.COM – Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Komisariat Matanna Tikka menggelar, Diskusi Publik di Cafe Magaya Jl. Ahmad Yani, Watampone, Sulsel, pada Senin, 4 Pebruari 2019, malam.

Diskusi Publik dengan tema “Eksistensi Budaya Lokal di Era Disruptiom ini menghadirkan Budayawan Bone, Andi Baso Bone Mappasissi sebagai salah satu narasumber.

Dalam sesi tanya jawab, salah seorang peserta, Saktiani Mahmud yang juga pengurus komunitas peduli sahabat, menanyakan prihal keterlibatan waria dalam proses ritual adat Bone serta Budayawan Bone yang dapat direkomendasikan ketika muncul persoalan adat di Kabupaten Bone.

“Kenapa ritual adat Bone melibatkan para waria, apakah itu dibenarkan oleh adat dan memiliki akar sejarah. Apakah Bissu dan Waria itu orang yang sama?, ketika muncul persoalan adat siapa tokoh atau budayawan yang layak dijadikan tempat bertanya?,” tanyanya.

Menanggapi pertanyaan tersebut Andi Baso Bone, menjelaskan prihal perbedaan Bissu dan Waria, menurutnya, Bissu dan Waria bukanlah orang yang sama, sosok Bissu di Kerajaan Bone terdahulu merupakan sosok perempuan yang dianggap memiliki pengetahuan khusus yang berasal dari Dewata Seuwa’e (tuhan).

“Bissu oleh masyarakat Bone di masa lampau dianggap sebagai perantara antara Tuhan dan manusia, sosok Bissu berjenis kelamin perempuan, dan dalam adat kerajaan hanya dikenal satu orang bissu. Sedangkan waria adalah laki-laki yang lebih suka berperan sebagai perempuan, waria sudah ada sejak zaman dahulu bahkan sudah ada sejak zaman kenabian. Jadi jelas Bissu dan Waria bukanlah orang yg sama,” tuturnya.

Dia juga membeberkan kronologis keterlibatan para waria dalam kegiatan adat Bone hari ini, dikatakan, bahwa keterlibatan para waria tersebut terjadi di Tahun 1991, pada tahun itu ada kegiatan Festival Budaya Daerah se-Sulawesi Selatan.

“Kala itu Festival Budaya Daerah di Makassar Tahun 1991, Pemkab Bone pada saat itu akan menampilkan tari-tarian Bissu, karena pemainnya harus perempuan yang tidak terlalu cantik, sulit bagi Pemkab mencari perempuan yang tidak terlalu cantik di Bone, rata-rata perempuan Bone cantik-cantik soalnya. Pakai pemain laki-laki tariannya harus mengunakan pakaian perempuan jadi Pemkab kewalahan. Pada akhirnya diliriklah para waria kala itu untuk tampil sebagai pemain, disitulah dimulai keterlibatan para waria dalam kegiatan adat di Bone,” terangnya.

Kegiatan Dialog ini juga turut menghadirkan, beberapa narasumber yakni, Akbar Faizal yang merupakan perwakilan dari Dinas Kebudayaan Pemkab Bone, Andi Singkeru Rukka Pemerhati Budaya sekaligus seorang akademisi (Dosen) IAIN Gorontalo.

Reporter: Fahrian
Editor: Zainal Marzain