HMI, Nasi Bungkus, Ideologi dan Jodoh

by -1,684 views
Dok. Foto Facebook Munir Sara

SULAWESIPOS.COM, OPINI – Kala itu, saya termasuk yang paling dongkol pada mereka yang banyak bicara di forum. Entah di BEM Jurusan, Fakultas hingga BEM universitas. Bahkan saya punya list, siapa-siapa saja orang yang saya dongkol. Bahkan lihat batang hidungnya pun saya emoh. Bukan soal apa, ini cuma karena mereka banyak bicara. Itu saja !

Karena sebab-musabab itulah, hari-hari perkuliahan, cuma lintang pukang percuma dari kampus, kos dan nongkrong sore-sore di depan gedung Keuangan-Kupang. Jual pamor pukul dada, hidup tak berguna saban hari. Begitu dan seterusnya.

Betapa tidak dongkol, jadi aktivis mahasiswa itu seperti marsose—Belanda. Hal remeh teme dibikinnya belibet. Soal makan yang tinggal telan masuk tenggorokan, dia masih bedah pikiran Albert Einstein hingga teori kelas Karl Marx. Lalu kapan makannya? Dan memang, awal-awal yang saya suka adalah nasi bungkus di HMI.

Bagaimana tidak enak? Bila dari enam komisariat HMI Cabang Kupang itu beruntun menggelar Basic Training, masing-masing tiga hari, maka hampir dua minggu lebih saya gantung kompor di kos. Disitu nikmatnya jadi HMI, pikir saya.

Lalu suatu sore, di bulan Maret tahun 1999, kak Nurmiati Guhir; yang terkenal sebagai aktivis kaliber di BEM dan HMI, nangkiring di depan kamar kos saya. Tanpa tedeng aling-aling, saya disuru siap-siap. “Ayo dek, isi pakaian dalam tas ikut Basic training HMI di masjid Perumnas-Oebobo.”

Alamak, hal yang paling saya dongkol itu tiba. Berupa-rupa alasan saya sodorkan pada kak Nurmiati. Dari tak punya uang daftar Bastra, hingga tak ada pakaian. “Kalau uang daftar Rp.10.000, kak Nur punya, kalau pakaian nanti kita pinjam kawan-kawan punya” begitu desak kak Nurmi

Memang, kak Nurmi ini termasuk aktivis Kohati yang jago ngotot. Saya kalah telak. Kak Nurmi mengantar saya tanpa banyak cincong hingga di masjid Perumnas. Disitu tempat Basic Training HMI. Disitu sejarah hidup dimulai.

Kalau di tarik mundur seluruh etape perjalanan saya di HMI, dari Ketum Komisariat KH.Ahmad Dahlan, Ketum HMI Cabang Kupang, Wasekjen BPL PB HMI, hingga berjodoh dengan mantan Sekjen Kohati PB HMI (paruh waktu), maka sejarah dimulai dari sana. Dari masjid Perumnas. Dan kak Nurmi-lah, sebagai sosok behind the scenes kenapa saya berlabuh di HMI.

***
Seiring waktu, saya kepincut pada nilai-nilai dasar perjuangan HMI. Dia memiliki prospek intelektualitas. Menembus batas-batas perbedaan dan sejarah. Bahkan nilai-nilai itu, menjadi postulat konsepsi yang terus hidup dan menyejarah—menjiwai Al quraan dan hadits sebagai sumber intelektualitas.

Karena memang diajari begitu—“Turut Al quran dan Hadits Jalan keselamatan.” Di HMI, saya temukan, ada masa depan peradaban yang dibiarkan berjalan bebas di atas jalan pikiran dengan bermacam macam manusia. Dari ahli sajadah hingga haram jada ada semua. Unik !

Lalu di ujung-ujungnya ada cinta yang meleleh disitu. Bertemulah dara Minang—Kohati Seberang. Lalu mengikat janji dan merangkai sejarah. Pertemuan Barat dan Timur, sebagai kekuatan yang saling menarik; dan menguatkan. Lalu di tanah Jawa—Jakarta, kita memulai—kini masi menjadi. Wallahu’alam

Selamat Milad HMI ke 72; tempat belajar yang selalu ku cintai sampai ke palung hati.

By. Munir Sara
Bogor 05 Februari 2019 #MiladHMI72
Editor: Zainal Marzain