Kotak Pandora Di Negeri Demokrasi

by -1,541 views
Ilustrasi unjuk rasa, sumber foto: kata.co.id

SULAWESIPOS.COM, OPINI – Rasa penasaran yang tinggi, membuat Pandora lupa dengan pesan Prometheus untuk tidak membuka hadiah pemberian Zeus. Walhasil, kotak itupun  dibuka, namun semua tak seindah yang dibayangkan, sebab isinya hanyalah segala keburukan. Pandora menyesal, namun dia sudah terlanjur membukanya. Maka mewabah lah segala virus keburukan di muka bumi ini. Kejahatan, kehancuran, penderitaan mewarnai perjalanan sejarah umat manusia, dan rasa penawarnya hanya satu, harapan.

Saya membayangkan Kotak Pandora baru saja dibuka di negeri itu, persis di jantung kotanya yang indah, di antara keragaman rakyatnya yang damai. Segala kebaikan pun perlahan tampak sirna, berganti dengan  sekian banyak keburukan. Orang-orang mulai saling merampas hak masing-masing, mereka saling menghujat-mencaci, saling memenjarakan. Para pemimpin juga mulai tidak paham atas alasan apa mereka berada di sana.

Fitnah, kebohongan, dan manipulasi tersebar dimana-mana, memangkas habis jarak antara kebenaran dan kepalsuan. Rakyat kehilangan pedoman, layaknya seorang gadis cantik yang masih lugu, di tengah kerumunan lelaki pemabuk. Mereka berada sebuah titik, dimana pilihan hanya tampak berbeda, namun secara esensi sama saja. Melawan dengan kepastian akan kalah, atau berdamai dengan ketidakberdayaan.

Rakyat sudah tidak saling percaya, mereka dihantui dengan ketakutan, sebab keadilan telah dirampas oleh orang-orang yang tampil layaknya pahlawan namun sebenarnya adalah penjahat. Keadilan itu dicacah, lalu ditempa menjadi sebilah pedang untuk memenggal siapa saja yang berani melawan. Hukum pun menjadi kehilangan makna, kadang kelihatan tajam namun di saat lain menjadi sangat tumpul.

Kini negeri itu betul-betul tampak buruk. Rakyatnya mulai banyak terserang penyakit karena tidak terurus. Mereka juga hidup miskin karena kekayaan negeri sudah diambil alih oleh sekelompok pemodal yang rakus. Pada titik yang paling rendah, harga diri pun terpaksa dijual untuk kelangsungan nafas kehidupan.

Pada akhirnya yang tersisa di kotak Pandora adalah harapan. Negara Demokrasi juga adalah sebuah harapan, dan itulah yang selalu dijual oleh para pejabat dan calon pejabat untuk meraih simpati dan empati. Ada banyak harapan yang bisa dikemas se-menarik mungkin. Kesejahteraan, kejayaan, kesuksesan, kedamaian, ketenteraman, selalu menjadi harapan yang tak pernah hilang, dari waktu ke waktu. Dari pemilihan ke pemilihan, dan karena itu rakyat masih bisa bertahan.

Mereka bertahan dengan tatapan hampa, dengan badan yang setengah membungkuk, sebab beban dipunggung terasa kian berat. Senyum sumringah serta janji-janji para pembual tak cukup manis untuk membuang rasa pekat yang tertahan dikerongkongan. Rakyat sebenarnya ingin berkata “kami butuh kenyataan yang lebih baik, kami lelah dengan janji, kami sudah muak dengan kebohongan”.

Tentu saja kotak pandora di negeri demokrasi hanyalah sebatas imajinasi buruk, sebab di alam yang sedikit lebih konkrit negara demokrasi adalah negara dengan tatanan nilai yang sangat mapan. Rakyat hidup tenteram-damai sebab kedaulatnnya tidak bisa dilukai dengan kekuasaan dalam bentuk apapun. Kemakmuran dan kesejahteraannya pun tidak perlu diragukan, sebab negara demokrasi selalu menempatkan persamaan hak dan keadilan sosial sebagai persyaratan mutlak yang harus dipenuhi.

<la-bolong>