Opini Tentang Pernyataan Said Aqil Siradj

by -1,848 views
Gambar: Penampakan kayu Bolong yang terdapat di Desa Sanrego Kecamatan Kahu, Kabupaten Bone, Sulawesi Selatan.| © Hariandi Hafid /Beritagar.id

SULAWESIPOS.COM, OPINI – “Menjadi orang saleh itu bagus tapi ketika kita merasa lebih saleh dari yang lain, mohon maaf perasaan lebih itu akan berbahaya. Menjadi orang yang baik, harus, tapi ketika merasa lebih baik dari orang lain, ini yang akan membuat kekacauan…”. Ini adalah salah satu penggalan ceramah yang pernah disampaikan oleh mendiang Ustadz Jefri Al-Buqhori.

Entah mengapa saya teringat dengan ceramah ini, persis ketika di beberapa media ramai diulas tentang pernyataan Ketua Umum PBNU Said Aqil Siradj dalam pidatonya pada Harlah Muslimat NU yang ke-73 di Stadion Gelora Bung Karno pada tanggal 27 Januari lalu.

Sebagaimana diketahui bahwa dalam pidato tersebut sang Ketua Umum menegaskan bahwa hal-hal yang berkaitan dengan urusan keagamaan seperti Khatib, Imam, dan Pegawai KUA harus dipegang oleh warga NU. “Peran agama harus kita pegang, misalnya imam mesjid, khatib-khatib, Kantor Urusan Agama, harus dari NU, kalau dipegang selain NU salah semua”. Demikian katanya. Sejujurnya saya khawatir jangan-jangan pernyataan seperti inilah yang disinggung dalam ceramah Uje tersebut di atas, sembari mencoba percaya akan dedikasi dan integritas seorang Said Aqil Siradj.

Ada yang menyayangkan seperti yang diungkapkan oleh Ketua Umum PP Muhammadiyah, Haedar Nashir. Beliau mengingatkan agar Indonesia tak didominasi oleh golongan apalagi bermazhab golongan tertentu. Ada pula yang mendukung, sebagaimana Gus Sholeh yang menyatakan bahwa pernyataan Said Aqil Siradj itu benar namun hanya berlaku dalam konteks internal NU, olehnya harus dipahami secara kontekstual dan bukan tekstual. Bahkan penyataan tersebut juga ditanggapi Wapres Jusuf Kalla. Beliau menilai bahwa pernyataan tersebut kurang tepat dan menyarankan agar Said Aqil Siradj melakukan klarifikasi.

Dalam benak saya sebenarnya terselip beberapa pertanyaan. Pentingkah pernyataan semacam ini disampaikan oleh seorang tokoh dengan pengaruh yang tak mungkin diragukan, di tengah tingginya sensitivitas publik akan informasi. Apakah penyataan ini hanya “keseleo lidah” yang sangat mungkin untuk diluruskan dengan melakukan klarifikasi. Atau kah pernyataan tersebut sudah benar, dan memang layak diucapkan oleh seorang Ketua Umum untuk meberikan motivasi kepada seluruh kader organisasinya untuk lebih progresif dalam mengambil peran positif di tengah-tengah masyarakat.

Selanjutnya ada satu pertanyaan yang sebenarnya cukup konyol namun tidak bisa saya elak. Apakah pertanyaan Pak Said Aqil Siradj itu muncul karena kebetulan bangsa ini sedang menjelang Pilpres 2019, mengingat jauh sebelumnya Said Aqil Siradj memang sudah menyatakan dukungan kepada salah satu Pasangan Capres-Cawapres. Plus, mengingat adanya pesan kepada para kader NU dalam mengemban Syhudan Syiayah (Peran Politik). Hm, Semoga tidak. Saya khawatir hal ini akan menjadi kontraproduktif dengan nasehat Bapak Presiden Joko Widodo tentang pemilu yang sejuk dan damai.

Namun apapun makna dari pernyataan Ketua Umum PBNU, rasanya penting bagi bangsa ini untuk melakukan refleksi diri. Sebenarnya rakyat telah lelah dengan pernyataan dan tingkah “lucu” sebagian elit yang kadang sangat centil dan kekanak-kanakan dengan saling mengejek, lalu berlomba mengklaim diri lebih baik, lebih benar, dan lebih oke. Rasanya terlalu naïf bila hanya karena motif tertentu, emosi publik dimainkan layaknya drama.

Demokrasi mapan yang dicita-citakan oleh para pendiri bangsa ini pun tentunya hanya dapat terwujud bila semua rakyat, tanpa melihat dari golongan mana dia berasal, dapat dilibatkan secara adil untuk mengisi posisi yang dibutuhkan oleh bangsa ini sesuai dengan peran masing-masing. Demokrasi tidak akan sehat bila masih ada tirani, sekecil apapun bentuknya. Dan kita tentu berharap pernyataan dari Bapak Said Aqil tidak menjadi bagian buruk itu.

So ada baiknya kita berhenti menanggapi pernyataan kontroversi itu, mari kita mengganti tema rasis dengan nasionalis, politik identitas menjadi integritas. Mari menggunakan nalar dan keyakinan kita sebagai sesuatu yang menyejukkan, dan bukan mengacaukan. Ada baiknya juga kita merenungkan kembali sepenggal kalimat dari pidato bung Karno “Jikalau lidi-lidi itu sudah digabungkan, diikat menjadi sapu, mana ada lagi manusia bisa mematahkan sapu lidi yang sudah terikat, tidak ada saudara-saudara…”

<La-Bolong>

Penulis adalah orang awam, bukan NU, Bukan Muhammadiyah, ataupun yang lainnya.