PETA JALAN INDONESIA 1945 – 2080, KOTAK PANDORA, KEADILAN DAN ADIDAYA – SAPU JAGAT NUSANTARA

by -1,737 views
Sumber Foto: suarabekasinews.com

Oleh: dr. ALI MAHSUN, M. BIOMED

Ketua Umum DPP APKLI Periode 2017 -2022
Presiden Rakyat Kecil (Kawulo Alit) Indonesia, Di Gedung Juang 45 Jakarta, Kamis, 24 Januari 2019
 
SULAWESIPOS.COM, OPINI – Pada hari ini, Kamis, 24 Januari 2019 di Gedung Joeang 45 Jakarta, tempat para pemuda Indonesia memutuskan Soekarno harus diculik untuk segera memproklamasikan kemerdekaan Republik Indonesia 17 Agustus 1945, kita ingin menyampaikan kepada seluruh pemangku republik bahwa Indonesia merupakan negara bangsa yang besar, kaya raya, dan memiliki peran strategis dalam kehidupan dunia sejak nenek moyang leluhur kita.

Pidato Kebangsaan ini saya beri tajuk: “Peta Jalan Indonesia 1945 – 2080, Kotak Pandora, Keadilan, dan Adidaya Sapu Jagat Nusantara”. Merupakan akumulasi dan pertautan antara pengalaman hidup, pembelajaran, keyakinan hati bersama Tuhan Allah Swt. dan pandangan saya secara pribadi dan obyektif tentang makna terdalam dari simbol yang ada di Perisai Garuda Pancasila.

Tidak ada tujuan lain kecuali, ingin membangun dan membangkitkan optimisme, memberikan harapan hidup agar rakyat dan bangsa kita tetap semangat bekerja dan berjualan menafkahi keluarga dan mensekolahkan anak-anak generasi penerus bangsa Indonesia ditengah ketidakpastian dinamika perkembangan politik dan demokrasi saat ini. Jikalau ada yang tersinggung atau sakit hati saya mohon maaf yang sebesar-besarnya.

Izinkan saya mengawali, Pidato Kebangsaan ini menukil dua (2) hal mendasar substabsional terkait dengan tata kelola bangsa dan negara untuk menuju yang lebih baik di masa mendatang. Pertama, Wasiat Raden Wijaya Raja Majapahit pertama kepada  putranya Jayanegara sebelum beliau wafat. Raja, Presiden, atau Pemimpin itu miliki semua kewenangan namun tidak boleh sewenang-wenang. Karena masih ada yang membatasi, yaitu hukum Tuhan yang tidak bisa disiasati dan dibohongi, serta tidak akan pernah ada Raja, Presiden, atau Pemimpin tanpa keberadaan rakyat dan alam semesta yang dipimpinnya. Kedua, Pemimpin harus jadi suritauladan bagi yang dipimpin, harus ada digarda depan tatkala rakyat dan alam semesta yang dipimpin hadapi persoalan berat dan kompleks. Bukan berfoya-foya di atas kesengsaraan dan penderitaan yang dipimpin. Optimisme lah yang latar belakangi manusia mampu bertahan dimuka bumi. Manusia atau suatu bangsa yang tidak miliki optimisme maka terancam punah dari muka bumi.

PETA JALAN PENATAAN INDONESIA 1945 – 1966

Peta Jalan Indonesia pertama atau Penataan Indonesia dari 17 Agustus 1945 hingga tahun 1966, dimana dalam Perisai Garuda Pancasila disimbolkan dengan Kepala Banteng, Dasar Warna Merah. Warna merah itu keras, cadas, penuh pergolakan, serta simbol keberanian dan ketegasan. Banteng adalah lembu liar namun memiliki kecenderungan bersatu. Dipimpin Ir. Soekarno, Proklamator dan Presiden RI pertama. Soekarno diturunkan Tuhan sesuai dengan kebutuhan Indonesia hadapi dua (2) masalah besar dan kompleks sebagai negara baru merdeka. Harus memperjuangkan pengakuan kemerdekaan dan kedaulatan Indonesia dari dunia internasional, dan menyatukan berbagai kelompok kepentingan didalam negeri, serta 120 kerajaan dan kasultanan menjadi bagian tidak terpisahkan dari NKRI. Soekarno sukses memimpin Peta Jalan Penataan Indonesia bahkan mampu selenggarakan Konferensi Asia Afrika (KAA) 1955 di Bandung dan GANEFO 1962 di Jakarta.

Namun bukan berarti tanpa pergolakan. Ada 10 kali pergantian Perdana Menteri dari 1945 hingga 1950, serta kerap terjadi pemberontakan semisal PRRI, Permesat, DI/TII dan lainnya. Mengingat dinamikan politik semakin tidak terkendali akhirnya Soekarno keluarkan Dekrit Presiden RI 5 Juli 1959, Pembubaran Badan Konstituante dan kembali ke UUD 1945. Era ini memang bukan era pembangunan melainkan semua energi dan sumber daya bangsa negara difokuskan untuk penataan Indonesia sebagai bangsa dan negara yang merdeka, bersatu, dan berdaulat. Adalah wajar jika ekonomi Indonesia merosot bahkan terjadi infalasi hingga 500% dan rakyat miskin dimana-mana. Namun ada hal yang diharus dipetik dari era ini bahwa nasionalisme, patriotisme, rasa cinta dan bangga kepada Indonesia jadi prasyarat untuk gapai cita-cita Pembukaan UUD 1945. Berakhirnya era Soekarno memasuksi Peta Jalan Indonesia kedua (02) harus dibayar mahal, sekitar 4,5 juta penduduk Indonesia jadi korban G30SPKI 1965, dan terjadi pengalihan kekuasaan ke Peta Jalan Indonesia yang kedua (02). Fakta ini harus jadi pembelajaran karena situasi dan kondisi bangsa negara saat ini jauh lebih parah dibandingkan era Soekarno.

PETA JALAN PEMBANGUNAN INDONESIA 1966 – 1998

Peta Jalan Indonesia yang kedua atau Pembangunan Indonesia di Perisai Garuda Pancasila disimbolkan pohon beringin, warna dasar putih. Pohon beringin simbol mengayomi, melindungi, dan mengutamakan rakyat hidup sejahtera. Berakar tunggal yang tangguh dan miliki akar cabang yang sangat kuat sebagai simbol punya kekuatan besar mampu mewujudkan apa yang diharapkan.

Dipimpin Soeharto selama 32 tahun dari 1966 – 1998, dan cepat belajar dari perjalanan Indonesia selama 21 tahun dari 1945 – 1966, dimana rakyat makin miskin, ekonomi Indonesia makin merosot. Dilandasi sebuah keinginan kuat segera bangkitkan ekonomi Indonesia, dongkrak kesejahteraan rakyat, Soeharto jadikan stabilitas politik sebagai prasyarat memimpin Indonesia. Tanpa stabilitas politik pembangunan tidak akan berjalan efektif, tidak berdampak pada kesejahteraan rakyat. Terbukti dalam waktu tidak lama mampu turunkan inflasi dari 500% menjadi 10 %, pembangunan berjalan baik, dan antarkan Indonesia jadi salah satu kekuatan ekonomi di Asia Pasific.

Di era ini pergolakan politik pun nyaris tidak ada. Para aktifis menyebut era Soeharto sebagai pembungkaman aspirasi publik. Setiap yang berbeda dikanalisasi. Karena kapasitas Soeharto mengkanalisasi juga terbatas, akhirnya terjadi Tragedi 12 Mei 1998, Penembakan Mahasiswa Trisakti dan berujung berhentinya Soeharto sebagai Presiden RI. Itulah yang harus dibayar dari keyakinan seorang pemimpin jadikan stabilitas politik sebagai prasyarat mutlak pembangunan. Indonesia memasuki Peta Jalan Indonesia ketiga (03) dengan ongkos tidak terlalu mahal, tidak banyak korban.

PETA JALAN  KOTAK PANDORA INDONESIA 1998 – 2024

Peta Jalan Indonesia ketiga atau Kotak Pandora Indonesia berlangsung 1998 – 2024, di Perisai Garuda Pancasila disimbolkan Rantai dengan dasar warna merah. Cadas, keras dan banyak pergolakan, serta bangsa dan negara dikelola diatas bara api dendam, dimana antar elit politik saling buka aib, pasang kuda-kuda, saling menyandra bahkan saling membunuh. Para elit era Soekarno, era Soeharto, dan era Reformasi ditambah adanya kecenderungan melinial didukung kemajuan ICT menjadi satu saling berebut kendurian RI. Saya yakin hal-hal tidak baik / buruk masa lalu dan saat ini terbuka secara keseluruhan sekitar tahun 2024. Indonesia berada pada resiko paling berbahaya selama perjalananya sejak merdeka 17 Agustus 1945.

Di era inilah hak-hak rakyat, hak politik, ekonomi, budaya, untuk mendapat penghidupan layak semakin jauh dari realitas. Hidup rakyat makin susah bahkan harkat dan martabat kemanusian semakin tertanggalkan. Adalah satu-satunya didunia, penyelenggaraan Pileg dan Pilpres RI 2019 secara langsung dan bersamaan ada Presidential treshold yang diatur dalam UU Pemilu. Sebuah realitas pengibirian bahkan kanibalisme demokrasi dan hak politik rakyat. Keperpihakan para elit politik kepada rakyat, bangsa dan negara dalam Pemilu RI 2019 pun belum kelihatan, yang ada hanyalah ambisi untuk berkuasa dan berkuasa.

Pergolakan politik silih berganti tak kunjung usai. Indonesia dipimpin tujuh (7) Presiden RI di era Kotak Pandora 1998 – 2024. Yaitu, 1). Habiebie (hanya 18 bulanmemimpin), 2). Gus Dur (hanya 21 bulan memimpin), 3). Megawati Soekarno Putri 2001 – 2004, 4). SBY, dua periode, 2004 – 2009 dan 2009 – 2014, 6). Jokowi 2014 – 2019, dan yang ke 7). Tergantung hasil Pilpres RI 17 April 2019.

Di era ini terdapat ancaman konflik besar yang paling berbahaya bagi Indonesia saat ini, yaitu konflik antar umat Islam. Semisal Kasus “Kalimat Tauhid” membawa Indonesia mencekam seperti mau perang saudara antar umat Islam. ‘Islam Nusantara’ berhadapan dengan ‘Islam 212’. Jika G 30S PKI 1965 itu sifatnya lokal, banyak komunis banyak korban, namun kalau terjadi konflik antar umat Islam bersifat sistemik diseluruh tanah air.

Saya yakin dibalik Kotak Pandora ada mutiara Indonesia. Yaitu adanya kesadaran utuh dari pemimpin Indonesia disemua levelitasnya untuk mengambil pelajaran dari perjalanan Indonesia dari 1945 hingga 2024. Menyadari, paling tidak atas tiga (3) hal yang belum terwujud, yaitu pemimpin Indonesia, 1). Tidak selalu hadirkan Tuhan pada dirinya, 2). Tidak selalu hadirkan rakyat dan tanah air pada dirinya, dan, 3). Lalai, tidak lestarikan dan tidak sadari kalau Indonesia merdeka 17 Agustus 1945 itu bukan jatuh dari langit melainkan perjalanan panjang dari pengalihan Majapahit ke Demak, Portugis masuk, dijajah Belanda 350 tahun dan dijajah Jepang 3,5 tahun, bahkan tidak jarang mendorong seakan-akan Indonesia lahir di era reformasi.

PETA JALAN KEADILAN INDONESIA 2024 – 2060

Saya yakini dari 2024 hingga 2060 Indonesia memasuki Peta Jalan Indonesia ke-empat, atau Keadilan Indonesia. Disimbolkan Padi Kapas, warna dasar putih pada Perisai Garuda Pancasila. Padi Kapas maknanya sandang, pangan dan pangan rakyat terpenuhi secara adil, dan didasari warna putih, sebuah sentuhan kesucian. Akan diturunkan Tuhan Pemimpin besar, sejati dan ksatria 2024 – 2060 yang berani lakukan revolusi tata kelola bangsa dan negara walau jabatannya terancam tidak diduduki lagi. Sosok pemimpin yang semua hidup dan yang dimilikinya dihibahkan untuk rakyat, bangsa dan negaranya, serta mampu membawa Indonesia yang dicita-citakan.

Minimal ada empat (4) revolusi tata kelola bangsa dan negara yang akan terjadi peta jalan keadilan Indonesia. Pertama, Revolusi untuk kembali Pancasila dan UUD 1945 hasil BPUPKI 18 Agustus 1945. Kedua, Revolusi mengumpulkan Raja dan Sultan se Nusantara guna memutuskan, apakah Indonesia dikembalikan ke era Majapahit abad XXIV atau era Sriwijaya abad VII yang telah terbukti mampu membawa kejayaan nusantara bahkan Majapahit pernah adidaya. Kalau kembali ke sistem kerajaan, Presiden RI akan jadi Perdana Menteri atau Mahapatih. Ketiga, revokusi untuk selalu menghadirkan Tuhan, rakyat dan bumi nusantara dalam tata kelola bangsa dan negara. Ke-empat, revolusi untuk kembalikan seluruh isi bumi dan kekayaan alam negeri ini jadi milik rakyat, bangsa, dan negara Indonesia.

Seluruh hak rakyat terpenuhi secara adil. Rakyat dan pemimpinnya menjalankan agama dan dan kepercayaannya dengan sungguh-sungguh dan konsekwen, bukan hanya di KTP. Seluruh hutang Indonesia lunas pada tahun 2034, serta masyarakat adil dan makmur dicapai tahun 2060.

PETA JALAN (05) ADIDAYA 2060 – 2080.

Setelah pemimpinnnya setiap hari sholat. Rakyat yang kristen setiap minggu ke gereja. Rakyat yang hindu, budha, konghocu, penghayat kepercayaan jalankan agama dan kepercayaannya dengan baik dan rukun, Indonesia memasuki Peta Jalan kelima tanpa ada pergolakan politik, atau Adidaya indonesia. Disimbolkan Bintang Keemasan, warna dasar hitam di Perisai Garuda Pancasila.

Di era inilah, ideologi Pancasila dari sila 1 sampai sila 5 akan dipakai dan diterapkan disebagian besar negara bangsa asing. Indonesia jadi negara adidya diantara Amerika, China, Rusia dan lainnya pada tahun 2080.

Setelah tahun 2080, saya yakin ada pergolakan dunia, ada perang dunia ketiga. Namun Indonesia tidak dilibatkan karena berada di zamrud katulistiwa karena kekayaannya menjadi tumpuhan dan jaminan kehidupan bagi seluruh umat manusia di dunia. Itulah yang latar belakangi keyakinan saya bahwa Indonesia tidak akan diserang militer sebagaimana Timur tengah yang terjadi hari ini.

Demikian apa yang saya sampaikan, dan Pidato Kebangsaan ini saya dedikasikan untuk Harlah APKLI Ke 26, tepatnya tanggal 29 Januari 2019. Semoga memberikan kemanfaatan bagi rakyat, bangsa, merah putih dan NKRI dibumi Nusantara Indonesia, amin.

Editor: Zainal Marzain