Bu Ely Yang Tangguh

by -925 views
IST/foto Facebook Munir Sara

Oleh: Munir Sara

SULAWESIPOS.COM, OPINI – Pagi; persis pukul 09.07 WIB, hujan sudah menggebuk tanah Cilebut. Sedari subuh, cuaca agak lembab. Awan tebal mengatapi langit Bogor. Saking tebalnya dan sarat; rasa-rasa sebentar lagi sudah rubuh menimpa punggung bumi.

Tak lama; awan tebal itu pecah berdedai. Hujan deras mengguyur seantero Cilebut. Bu Ely, jalan tergopoh-gopoh depan rumah saya. Usianya senja. Badannya ringkih. Tiga kantung plastik besar ditenteng kiri dan kanan. Satunya lagi dijunjung dengan kepala berkerudung yang sudah merunduk. Diusia tuanya; bu Ely masih memanggul beban hidup.

Saya meminta istri agar panggil bu Ely berteduh di teras rumah. Sambil menyelam minum air. Bu Ely menawarkan panganan bawaannya. “Ini ada rempeyek, pete dan kerupuk singkong balado. Tape uli dan varian kripik juga ada.” Dan satu kresek lainnya; full berisi pete. Bunda Alif mengedipkan matanya sembari berbisik, “emang abang mau beli keripik?”

“Beli saja,” jawab saya. “Saya mau rempeyek. Ibu itu kehujanan, usianya sudah uzur. Banyak tentengan. Jangan kamu cuma lihat tentengan keripiknya. Tapi kamu lihat sisi yang lain. Bu Ely menjunjung harapan. Kalau kamu beli tiga bungkus peyek dengan harga Rp.10.000, sama halnya kamu telah memberi benefit dan harapan padanya. Kamu ongkosi harapannya. Kamu lihat bu Ely, dia hampir putus asa. Hujan begini, mana ada yang beli keripiknya di perumahan. Tengok saja emoh. Apalagi mau beli. Dengan membeli keripik bu Ely, kamu sudah merawat harapannya.”

Bu Ely tinggal di seberang perumahan Pesona Cilebut. Ia tinggal di rumah kontrakan. Ia janda ditinggal mati suami. Tak ada penghasilan lain, selain menjual keliling aneka panganan. Dari sini ia mengumpul seperak dua perak; untuk membayar kontrakan, biaya makan dan ongkos sekolah seorang anaknya. “Saya empat anak mas, tiga sudah menikah. Saya kerja untuk biaya kontrakan, makan minum dan sekolah anak bungsu,” terang bu Ely sembari melempar senyum yang tak putus-putus.

Di usianya yang senja, bu Ely energik. Tak memelas ataupun mengobral nestapa. Ia bekerja. Kaki ringkihnya setiap pagi keliling perumahan Cilebut nan luas. Melongok satu pagar ke pagar rumah lain. Mengetuk satu pintu ke pintu lain, menawarkan panganannya pada warga perumahan.

Usut punya usut, varian keripik itu bukan bikinan bu Ely. Ia ambil dari orang lain. “Ya.., untungnya ga banyak si mas. Paling sebungkus keripik saya untung Rp.1000. Ga seberapa mas, tapi kalau ulet dan telaten; dikumpul-kumpul, jadi banyak juga to?” Begitu kata bu Ely dengan penuh semangat yang tersembul dari garis wajah keriputnya.

Saya mencoba peyek bu Ely. Rasanya cocok, bila makan ikan bily balado; diiringi peyek bu Ely. Selain bily nan gurih dari danau Singkarak Ranah Minang; kriuk rempeyek dan rasa kacang di balik peyek; menyempurnakan sarapan berskala makan siang. Maka nikmat Tuhan mana lagi yang engkau dustakan? Tuhanpun bertanya begitu di QS Ar rahman. Semoga Allah melimpahkan rahmat untukmu bu Ely. Wallahu’alam

editor: yusuf muhammad