Ecotourism Sedang Menggejala di NTT?

by -748 views
foto dokumen pribadi facebook munir sara

By. Munir Sara

Beberapa minggu lalu, seorang teman saya dari Atambua memposting ecotourism di Belu-NTT. Memang, sedari dulu, Kolam Susu Atambua, punya pesona. Selain hutan magrove-nya yang padat dan tak kalah; destinasi Teluk Gurita yang cantik alami bak perawan jelita. Sampai-sampai, band legendaris Koes Plus bikin lagu tentang Kolam Susu.

Tapi densitas mangrove yang liar di Kolam Susu, kini disulap menjadi spot ecotourism yang cantik. Telah menjadi destinasi wisata orang-orang kota Atambua. Keindahannya tak kalah dengan Mangrove Ecotourism Centre di Pantai Indah Kapuk-Jakarta atau Ecotourism in Mangroves in Peninsular Malaysia.

Mangrove liar di Kekuluk Mesak-Belu, kini menjadi sumber pendapatan bagi desa-desa di sekitar. Menjadi aset BUMDes. Setidak-setidaknya spot ecotourism ini, turut menggairahkan ekonomi warga di sepanjang bibir Kolam Susu.

Akan tumbuh sentra-sentra baru Industri Kecil Menengah (IKM) yang berbasis pada local products. Entah berupa produk panganan lokal atau souvenirs. Saya juga tahu, ikan Bandeng di sekitar Kolam Susu dan Teluk Gurita, juga gurihnya bukan main.

Saya lihat di Lembata, magrove ecotourism juga sedang merebak. Sudah menjadi the new ecotourism destination. Karena secara observatif, sektor pariwisatalah yang mampu mengakselerasi laju pertumbuhan ekonomi di NTT. Kabupaten Manggarai Barat sudah membuktikannya secara konkret.

***
Saat nonton NatGeo People, saya juga terinsipirasi sekali dengan ecotourism yang menjadi andalan destinasi di Kosta Rika. Bahkan, pertumbuhan jasa pariwisata ecotourism di Kosta Rika, memberikan sumbangsih cukup besar bagi gross domestic product (GDP).

Saya termasuk yang suka dengan vegetasi hutan mangrove. Waktu mau tugas Akhir, saya juga mengajukan proposal skripsi tentang vegetasi Mogrove di Ilake’el Baranusa. Konsentrasinya pada pengaruh penebangan Mangrove dan sendimentasi dan erosi permukaan Ilake’el. Tapi pembimbing saya bilang ini penelitiannya lama dan mahal. Sementara saya pengen cepat-cepat jadi sarjana dengan biaya murah meriah.

The Costarican News merilis Ecotourism Benefits the Costa Rican Economy by 16%. Selain mereka menjaga masa depan ekologi, juga menciptakan benefit bagi National income, mereka sudah jauh lebih sophisticated bicara soal ekonomi hijau, atau yang pro environment. Indonesia masih berbusa-busa bicara soal renegoisasi tambang. Masih maniak memeras isi perut bumi dan merusak tata kosmos tanpa peduli masa depan anak cucu dan ekosistem.

Nah, di Alor-NTT, saya juga melihat ecotourism destination juga berlimpah. Dari hutan mangrove sepanjag pantai Beldang, Welae hingga sepanjag pantai di Alor Barat Daya. Juga ada destinasi menarik di sepanjang arah ke bandara Mali. Demikianpun densitas mangrove di pulau Pantar. Spot-spot ecotourism ini belum disentuh dengan baik oleh investasi pemerintah melalui APBD.

***
Semua itu karena pengelolaan APBD-nya tidak inovatif. Cenderung konsumtif. Belum ada prioritas APBD-nya menjangkar ke sektor apa. local core businesses apa itu belum benar-benar terefleksi dalam politik fiskal daerah.

Idealnya dengan APBD yang kecil (sekitar Rp.1,3 triliun), APBD-nya dibikin benar-benar efisien dan produktif. Benar-benar dipreteli, agar belanja modal benar-benar menyasar pada sektor-sektor yang sekiranya itu mendorong sumber-sumber baru tumbuhnya ekonomi rakyat. Jadi APBD bukan rutinitas; dan menjadi sumber bancakan politik untuk mendapat uang receh.

Pointnya itu kembala pada politik Pemilu sebagai konstruksi awalnya. Kalau kualitas DPRD-nya ecek-ecek, ya tentu APBD tak bisa dipreteli seharusnya ke arah mana? Tidak melek terhadap local content. Masyarakat harus diberi pendidikan politik, agar tidak memilih kacung dan kucing dalam karung. Tidak tertipu oleh photoshop dan sampah fisual berupa infografis yang lintang pukang sepanjang bahu dan bibir jalan.

Masyarakat harus menyeret para caleg-caleg itu agar bisa bicara di depan mereka tentang ke arah mana politik fiskal daerah. Karena masyarakat tidak memilih karena photoshop dan segala infografis yang alai dengan segala rupa tingkah. Masyarat memilih konsepsi. SATU SUARA RAKYAT, MENENTUKAN LIMA TAHUN PEMBANGUNAN DAERAH !

Wallahu’alam