Tren Mental Mewah

by -1,289 views
Istimewah Muhlis Pasakai.

Oleh: Muhlis Pasakai (Kepala SMK Muhammadiyah Sinjai)

“Dijadikan terasa indah dalam pandangan manusia cinta terhadap apa yang diinginkan, berupa wanita-wanita, anak-anak, harta benda yang banyak dalam bentuk emas dan perak, kuda pilihan, hewan ternak dan sawah ladang” (QS.Ali ‘Imran: 14).

Saya mengelompokkan menjadi tiga hasrat manusia berdasarkan potongan ayat diatas, yaitu hasrat berahi yang ditunjukkan oleh wanita-wanita, hasrat reputasi yang direpresentasikan oleh anak-anak, dan hasrat materialis oleh emas sampai sawah ladang. Jika diterjemahkan sebagai fasilitas (tools), maka hasrat ini pada dasarnya untuk menjamin dan melestarikan keberlangsungan hidup manusia, karena untuk melakukan aktivitas, beribadah dan berdakwah, manusia membutuhkan pangan, peran sosial, mobilitas, donasi dan sebagainya. Berbeda ketika hasrat itu tidak dibingkai dalam perspektif wasilah maka dia akan menjadi luxe oriented, yaitu untuk bermegah-megahan.

“Seandainya seorang anak Adam memiliki satu lembah emas, tentu ia menginginkan dua lembah lainnya” (Muttafaqun ‘Alaih).

Hadits ini dapat menggambarkan watak manusia yang terkadang tidak dapat mengontrol kebutuhan barang mewahnya. Kendaraan yang dimiliki pada dasarnya sudah dapat mengoperasionalkan kebutuhan hidupnya, tetapi diganti atau ditambah dengan yang lebih mewah, padahal itu tidak memberikan nilai tambah yang signifikan terhadap capaian hidupnya. Itulah contohnya, yang kemudian saya sebut tren mental mewah.

Interaksi di dunia maya  (screen culture), di media-media sosial sengaja ditampilkan “kemewahan-kemewahan” untuk mendemonstrasikan eksistensi dan “kelas”. Kemewahan dijadikan sebagai nilai tawar dalam transaksi politik praktis pragmatis. Kemewahan dijadikan sebagai power untuk memenangkan konstelasi rivalitas. Kemewahan dibarter secara paksa sebagai satu-satunya indikator kesuksesan. Kemewahan dijadikan representasi kedigdayaan dan gengsi otoritas. Kemewahan menjadi simbol utama strata sosial dan taraf hidup. Seorang pejabat malu jika tidak berkendara yang mewah, seorang pimpinan merasa tidak layak jika fasilitas hidupnya tidak lebih mewah dari bawahannya.

Semua itu memancing hasrat “materialis-kemewahan” kita. Akumulasi ini dapat menjadi tren kolektif yang menarik peradaban kita pada gerbong mental mewah yang asosial, apabila kemewahan itu tidak berbanding lurus dengan peran dan pemberdayaan. Akibat yang menanti diantaranya adalah kesenjangan ekonomi yang berbuntut pada krisis sosial, serta kepemimpinan lahir dari transaksi “kemewahan” yang miskin merit system.

Jangan heran jika melihat anak-anak muda atau aktivis yang bergaya luxe, atau yang rajin mendekat ring kekuasaan untuk ikut ambil bagian atas “kemewahan”, itu karena mereka terobsesi oleh tren mental mewah ini.

Saya mengkhawatirkan kasus-kasus korupsi yang menyembelih rasa keadilan sosial diantaranya juga dipicu oleh tren yang disharmoni ini.

Tren mental mewah yang egoistik seperti ini layak kita soroti ditengah-tengah kesenjangan yang masih pongah mencederai semangat egalitarianisme. Kita harus menakutkan jika tren ini mewabah yang mengancam orientasi anak negeri bukan pada give yang kaya peran, tapi take yang sarat foya-foya.

Allahu A’lam bi-Ashshawab