Idham Arsyad: Mimpi 2019

by -782 views
tribunnews.com

Oleh: Iwan Nurdin

Pembuka tahun ini, tahun pemilu, saya ingin mengenalkan sosok yang mungkin anda sudah kenal, Idham Arsyad. Sederhana saja, Bagi saya, Pemilu 2019 tentang Mimpi Indonesia yang harus terwujud, ya mimpi kita-kita ini, kalangan kita, mari jadikan Indonesia milik kita dan terus milik kita. Melalui pemilu. Bukan hanya mereka yang para jenderal, pembesar, yang sejak zaman moyangnya menjual kita-kita ini.

Idham Arsyad mantan pimpinan saya di Konsorsium Pembaruan Agraria (KPA), menjadi Sekjen dan menakhodai organisasi kami dengan sangat baik. Alhasil, KPA tetap kokoh menyuarakan diri sebagai lembaga utama yang mendesakkan reforma agraria.

Sejak 2015 hingga sekarang, Ia menjadi Ketua Pokja Masyarakat Sipil di Kemendes. Saya diminta jadi wakil ketuanya. Seperti kebiasaan, saya selalu siap grak, kalau kawan minta untuk hal-hal baik. Mengumpulkan banyak organisasi dengan beragam latar belakang untuk mendorong agenda-agenda masyarakat sipil terkoneksi dengan Kemendes bukan hal mudah. Hebatnya, meskipun dari berbagai lembaga mereka mendukung Pokja ini, rentu jarena reputasi pribadinya, hingga sekarang Pokja masih eksis di Kemendes.

Idham bukan orang baru dalam politik. Tahun 2014 lalu, ia masuk ke dalam sosok calon legislatif pilihan Majalah Tempo. Sayang, dia kurang suara untuk melenggang ke Senayan. Dalam pemilu, lebih baik hampir kalah dibandingkan hampir menang, demikian kelakarnya. Ini ungkapan kematangan sisi psikologisnya dalam melihat proses kompetisi.

Saya hendak mengatakan bahwa ia matang berorganisasi dengan kemampuan organisasional yang baik. Bukan perkara mudah masuk jajaran terpercaya organisasi dan lintas organisasi hinga media massa utama tanpa kemampuan.

Bogel, demikian kawan-kawannya menyapa, panggilan bekennya sejak lama Kawan ini besar di pesantren sehingga hapal berjuz-juz alquran, dan berhikmat di PMII sewaktu mahasiswa. Soal kerasnya cobaan hidup yang ia jalani, tak usah diceritakan. Adakah yang lebih buruk dari Yatim Piatu sejak muda? Tapi ia sukses menorehkan jejak-jejak baru dirinya, sosok yang bermanfaat, yang pasti membanggakan dan layak dipanuti.

Pendidikan formalnya diselesaikan di UIN Alauddin Makassar dan Magister di Institute Pertanian Bogor (IPB).

Dari sisi ini saya menilai bahwa ia sosok yang cerdas dan tak pernah menyerah. Sebuah pribadi yang menebarkan optimisme melalui rekam jejak pribadi.

Politisi juga harus terampil mengartikulasikan gagasan dan visi politiknya. Sudah banyak tulisan ia torehkan. Juga, banyak forum global dan nasional menunjuk dia sebagai nara sumber. Kalau saya disebut jual kecap, sebaiknya anda pakai gawai untuk mencari sosoknya di mesin pencari google.

Tahun ini ia akan melaju kembali untuk DPR-RI melalui Daerah Pemilihan Sulawesi Selatan III melalui PKB. Nomor urut 2. Sulawesi Selatan memang kampung halamannya.

Kalau kamu mau mendudukan orang baik dari kalangan kita sendiri, rakyat kebanyakan, namun bukan sembarangan inilah pilihan itu.

Saya sepenuhnya mendukung kawan ini, kawan, saudara dan segenap keluarga di sana, mari ikut saya mencatatkan sejarah kita sendiri. Sejarah kita yang gemar bekerja keras, suka belajar, jujur, optimis dan humoris.
—————–
*Ketua Dewan Nasional KPA/Kolumnis KOMPAS