Berikut Kronologis Tukang Demo Tertangkap Tangan Memeras Kepala UPTD Pelabuhan Amolengo

by -875 views

KENDARI, SULAWESIPOS.COM – Seorang pemuda bernama Muhammad Syawal (26) tertangkap tangan usai mengantongi uang hasil pemerasan terhadap Kepala Unit Pelaksana Teknis Dinas (UPTD) Pelabuhan Penyebrangan Amolengo – Labuan, Armin Malaka (54). Awal ditangkap polisi pada Sabtu (29/12/2018) di Kendari.

Muhammad Syawal, dikenal sebagai seorang aktivis dan kerap demo hingga digelari tukang demo.

Dalam setiap demonya Awal membawa nama organisasi Aksi Barisan Pemuda Pemerhati Sulawesi Tenggara (BPPK Sultra). Ia beralamat di Dusun I Desa Ampera, Kecamatan Kolono Timur, Konawe Selatan (Konsel). Dari tangan Syawal polisi menemukan uang Rp. 10 juta hasil pemerasan.

Tindak pidana pemerasan itu dilakukan Awal dengan mengancam Armin Malaka bahwa BPPK Sultra hendak melakukan demonstrasi/aksi di Pelabuhan Amolengo – Labuan. Tuntutannya bahwa Amin Malaka sebagai Kepala UPTD Pelabuhan Amolengo – Labuan akan diberhentikan, apabila tidak diberhentikan maka Awal akan memboikot seluruh aktivitas Pelabuhan.

Mendapat ancaman demo, Armin Malaka bersama beberapa orang meminta bantuan Camat Kolono Timur agar dimediasi dan dipertemukan dengan Syawal. Agar tidak terjadi aksi unjuk rasa dengan memboikot aktivitas di Pelabuhan karena saat ini terjadi lonjakan penumpang akibat libur natal dan tahun baru.

“Syawal meminta agar pertemuan negosiasi dilakukan di Kendari, sehingga saya bersama rekan-rekan melakukan pertemuan di Warkop Mezzo, Jalan Laode Hadi Bypass, Kendari, Sulawesi Tenggara,” ujar Armin Malaka kepada polisi

Pada pertemuan pertama yakni pada Jumat (28/12/2018), di mediasi Danramil Lainea. Saat proses mediasi Syawal tidak menerima saran yang diberikan Danramil Lainea maupun saran dari pihak pelabugan. Ia bersikukuh akan tetap melakukan aksi unjuk rasa dengan memboikot aktivitas pelabuhan.

Saat itu Danramil Lainea pamit duluan pulang karena ada kegiatan lain yang hendak dihadiri. Tidak lama kemudian Armin melihat Syawal mendatangi Indra Kurniawan sebagai Kepala Operasional Pelabuhan Penyebrangan Amolengo. Dalam perbincangan tersebut Syawal meminta sejumlah uang.

Indra kemudian memberitahu Armin dan Misbah selaku Kepala Supervisor Pelabuhan Amolengo bahwa Syawal meminta sejumlah uang. Lalu Armin langsung menjawab bahwa “uang apa yang mereka minta, tapi tidak apalah kalau hanya sebatas pembeli rokok nanti kita kasih (berikan agar dia jangan melakukan aksi unjuk rasa dan memboikot aktivitas pelabuhan,”.

Saat itu juga Armin mengeluarkan uang sebanyak Rp. 1,5 juta sedangkan Misbah sebanyak Rp. 1 juta sehingga terkumpul uang sebanyak Rp. 2,5 juta. Indra Kurniawan memberikan uang itu kepada Syawal namun ditolak karena Syawal meminta Rp. 30 juta.

“Saya mengatakan dimana kita mau uang segitu, kemudian saya mendatangi Muhammad Syawal lalu langsung bertanya bagaimana baiknya dinda karena kalau Rp. 30 juta saya tidak sanggup. Lalu Syawal menjawab ya sudah kalau begitu kita ketemu saja di lapangan, maksudnya dia tetap akan lanjutkan demonstrasi, lalu Syawal pergi meninggalkan kami,” beber Armin.

Kemudian sekitar pukul 19.00 Wita Armin Malaka Ke Polres Kendari melaporkan kejadian pemerasan yang dilakukan Sawal. Kemudian sekitar pukul 00.00 Wita Indra Kurniawan menelpon Syawal agar bisa ketemu kembali. Saat itu Syawal mengatakan bahwa untuk pertemuan di depan kampus Avicenna Kendari.

Pertemuan pun dilakukan di depan Kampus Avicena yakni Kafe Bang Djadja, pada Sabtu (29/12/2018). Sawal membawa dua temannya bernama Abdur Rajab Saputra dan Laode Dedi. Kemudian uang Rp10 juta diserahkan langsung kepada Sawal dan tetap meminta tambahan agar cukup Rp30 juta.

“Mereka bertiga bertanya terus sisanya bagaimana. Lalu saya mengatakan jangan juga kalian terlalu desak kami karena ini uang dikumpul–kumpul dulu, lalu Muhammad Sawal langsung mengatakan bisa tapi besok paling lambat jam 09.00 Wita. Uang yang Rp10 juta saya serahkan langsung kepada Muhammad Sawal lalu dia masukkan ke dalam kantong celananya,” tutur Armin.

Tidak lama kemudian Armin dan teman-temannya langsung pergi meninggalkan kafe Bang Djadja. Setelah itu Muhammad Sawal dan dua rekannya tertangkap tangan oleh petugas dari Polres Kendari di kafe tersebut pada pukul 11.00 Wita.

Kasat Reskrim Polres Kendari AKP Diki Kurniawan mengatakan setelah dilakukan pemeriksaan terhadap saksi – saksi dan tersangka, telah cukup 2 alat bukti (keterangan saksi dan bukti petunjuk). Sawal dikenakan pasal Pasal 368 dan atau 369 KUHP tentang tindak pidana pemerasan dengan ancaman hukuman pidana 9 tahun penjara.

“Barang bukti yang berhasil didapatkan polisi yakni hasil pemerasan uang tunai sebanyak Rp10 juta, surat pemberitahuan aksi dari BPPK Sultra yakni yang tertanggal 22 Desember 2018 dan surat pemberitahuan aksi tertanggal 28 Desember 2018,” ujar Diki melalui pesan WhatsApp, Minggu (30/ 12/2018).

Sumber : ZONASULTRA.COM
LAODE SYARIF/KONAWE