Amien Rais Bukan Politisi Manggut-manggut

by -1,455 views

By Munir Sara

Selamat menunaikan shalat subuh. Muhammad Amien Rais bukan cuma alegori. Tapi menceritakan PAN tanpa MAR, sepertinya ahistori, pun menegasikan sebahagian dari bab panjang perjalanan idealisme partai berlogo matahari itu.

Beberapa hari lalu, jagat lini masa mendidih dengan surat terbuka dari lima founder PAN. Mereka politisi spesialis pilpres. Dan menyoal inklusivitas MAR dan PAN. Sudah, tak usah basa-basi. Apakah semua ini gegara PAN tak bersama koalisi ZAENUDIN NACIRO, SI CAPRES PENGATUR KAMERA?

Bagi kami anak-anak muda PAN, MAR bukan cuma alegori, tapi dia oase di tengah gurun demokrasi. Sulu bagi pikiran (kritis). Mencerahkan dan memantik perlawanan pada kekuasaan yang liar dan badung.

Dia mengajarkan; bahwa berpolitik, bukanlah menyusun anak tangga menuju kenyamanan. Tapi ada jalan lain, yang namanya “politik kebenaran.” Meski pilihannya “keluar dari zona nyaman.”

Amien Rais, seperti yang dibilang Rocky Gerung, bahwa “berfikir adalah menggeleng, bukan manggut-manggut.” Karena itu, MAR bagi kami anak-anak muda PAN, adalah wujud dari cara berfikir yang diametral.

Karena, suatu pikiran, harus diuji, melawan arus, agar diasah daya kritisnya. Karena disitulah hukum pikiran; diametral; kontradiksional.

Bahkan kebenaran, selalu lahir; sebagai akibat dari peristiwa-peristiwa kontradiksional. Karena kontradiksi adalah kondisi antara, dimana kebenaran eksistensial itu lahir. Begitu hukumnya.

MAR adalah guru bagi madrasah keberanian, sulu bagi kami-kami yang “baru menjadi.” Alangkah terbuang percuma usia, jika dalam fase pertumbuhan idealisme politik, mengalami pen-debil-an karena racun politik manggut-manggut pada kuasa.

Lalu, tiba-tiba, datanglah empat orang; yang pukul dada; mengepakkan lengan; dengan leher mendongak sebagai founder PAN. Mereka menyoal MAR, dengan surat terbuka dan menyebut “inklusivitas MAR.”

Apa urusan? Mereka seperti orang kaget dari tidur. Bahwa PAN sudah menjadi partai terbuka. Dan menjadi partai terbuka, bukan karena mesti bersama-sama barisan koalisi penguasa. Karena keempat macan ompong founder PAN itu, adalah cecunguk dari kekuasaan yang gemuk dan banyak kolesterol.

Mereka empat politisi capres ini datang membawa tema keterbukaan (inklusivitas). Tapi tema itu menjadi liar dan tak bebas nilai. Karena sebelumnya (2014), mereka juga memperbincangkannya seperti saat ini; hanya gegara PAN tak bersama koalisi capres pengatur kamera. Sampai disini, tema inklusivitas yang mereka usung itu, menjadi rombeng dan lacur.

Lalu dimana nilainya? Sejak awal nilai yang mereka usung itu menjadi getas, karena mereka adalah “pemain.” Yang tiba-tiba datang dengan membawa agenda yang tak bebebas nilai. Bau anyir politiknya sudah terendus. Kasihan!

Bogor, 27 Des 2018

Penulis adalah Mantan Ketua HMI Cabang Kupang