Simposium Kebangsaan MN KAHMI, Menyoal Arah Petani Indonesia

by -578 views

Acara ini dihadiri oleh para praktisi ekonomi, pangan, politik, dan turut hadir staf kementrian Republik Indonesia yang tergabung menjadi bagian dari KAHMI.

Presidium MN KAHMI Dr. Hamdan Zoelva, S.H., M.H dalam sambutannya mengutip cerita dari sejarah Mesir Kuno, tepat saat Raja Fir’aun galau karena mimpinya yang ia pertanyakan kepada Yusuf ternyata memiliki makna “bertanamlah”.

Dari cerita Fir’aun tersebut, Hamdan mengatakan persoalan seperti itu turut menjadi tugas bagi Pemerintah Indonesia untuk menyelesaikan permasalahan pangan hari ini, tantangan yang begitu kompleks sehingga perlu ditangani mulai aspek ketersediaan, keterjangkauan dan kebermanfaatan.

“Melihat kondisi masih pada perdebatan ketersediaan pangan tentang Indonesia melakukan impor produk, sedikit produksi hasil pertanian akan semakin banyak masalah yang muncul, saat terus menerus terjadi peningkatan konsumsi terhadap suatu produk, namun jika Indonesia tidak meningkatkan kegiatan produksi maka sampai kapanpun kita akan terus melakukan impor, Kata Hamdan

Sebagai sumbangsih kecil KAHMI untuk Indonesia dalam rangka pengabdian melalui kegiatan Simposium Kebangsaan ini, Hamdan menyambut baik kehadiran KAHMI se-Indonesia dari Sabang sampai Merauke dan Mianga hingga Pulau Rote.

Permasalahan pangan yang dikaitkan dengan aspek persoalan kebangsaan dan ketahanan nasional, menghasilkan beberapa pandangan dari para praktisi yang turut hadir sebagai peserta simposium dari 18 pembicara.

Rektor IPB yang juga Praktisi pendidikan Arif Satria menyoal permasalahan Bangsa ini yang akan mengalami krisis petani, sehingga aspek pertanian harus dibicarakan secara serius untuk dipersiapkan dan bisa menghasilkan para petani yang mampu menjadi socialpreneur.

“Langkah sederhana yang mampu dilakukan adalah dengan menjadikan para mahasiswa sebagai seorang penyuluh bagi para petani di desa dari hasil didikan Lembaga Pendidikan bidang pertanian untuk membina dan membantu menyelesaikan persoalan dari akarnya,” Kata Arif

Arif mencontohkan IPB hari ini mulai memikirkan kurikulum yang tidak hanya tentang persoalan bagaimana IPK besar, tapi juga akan menghasilkan para mahasiswa yang tidak hanya pintar tapi harus menjadi seorang aktivis.

“Mahasiswa juga harus merasakan bagaimana menjadi pemimpin dan mampu menyelesaikan konflik yang ada, minimal di lingkup kampus,” pesannya

Andi Hendra Hidayat/Jkt