Dirgahayu NTT; Sumber Air Su Dekat?

by -295 views

By : Munir Sara

Waktu iklan sumber air su dekat booming, teman-teman orang Jawa banyak yang menggunakan semiotic itu. Lalu dilabelkan pada saya. Juga mungkin anak NTT yang lain. “Woi, Nir, Sumber air su dekat,” Tentu secara ikonik saya suka, karena kita orang NTT punya identifikasi. Meskipun itu adalah soal besar. Karena air; adalah sumber primer kehidupan.

Bahkan dalam Sustainable Development Goals (SDGs), akses sanitasi merupakan isu penting dalam mewujudkan pembangunan berkelanjutan dan prosperity. Berdasarkan data Dinas Pekerjaan Umum Provinsi Nusa Tenggara Timur (2018), Provinsi Nusa Tenggara Timur nyatanya masih kekurangan air bersih atau defisit hingga 1,5 miliar kubik per tahun.

Artinya, defisit ketersediaan air bersih di NTT ini semakin tinggi, karena pada tahun 2012, defisit air bersih NTTsebanyak 1,2 miliar meter kubik per tahun. Jadi dalam kurun waktu enam tahun, defisit air bersih di NTT ini tak mampu di tanggulangi. Data dengan sumber yang sama, dapat dilihat bahwa jumlah penduduk NTT adalah sebanyak 4,6 juta. Standar kebutuhan pokok air setiap penduduk rata-rata 100 liter per hari, tetapi warga di NTT kurang dari 30 liter per hari per orang.

Artinya, jika dalam rentan waktu yang enam tahun (dari 2012-2018), tiap hari orang NTT mengalami kekurangan suplai air bersih; berdasarkan data. Padahal, dalam salah satu workshop di tahun 2017, Dirjen Strategi Pembangunan AMPL Regional III (Sulawesi, NTT, Maluku dan Papua), berharap, 2% dari APBD, bisa dialokasikan untuk AMPL (Air Minum dan Penyehatan Lingkungan).

Bila akses sanitasi ini menjadi isu penting dalam SDGs, dan NTT secara khusus memiliki defisit air bersih tiap tahun 1,5 miliar kubik, maka alokasi APBD untuk AMPL; dipertimbangkan di atas 2% dari APBD. Dan tentu secara rasional; alokasi APBD tetap dalam frame money follow program.

Kabupaten Alor misalnya, kalau kita ke Pulau Tarnate, Treweng, Pulau Pura, dan sebahagian besar desa-desa di Pulau Pantar, rata-rata memiliki problem soal akses air bersih. Warga Pulau Buaya misalnya, untuk mengakses air bersih, mereka harus menyebrang laut ke Pantai Baolang; untuk menyedot air pasir di tepi pantai. Air bersih yang mestinya diakses gratis, tapi harus dibayar; karena membutuhkan BBM dan biaya transportasi untuk pengangkutan dari seberang.

Memang ini soal politik anggaran. Juga soal goodwill. Akhirnya; dalam siklus demokrasi dari waktu ke waktu; kita berharap tingginya partisipasi politik rakyat NTT; tapi justru anomali, karena disaat yang sama; warga NTT mengalami kekurangan pasokan air bersih 30 liter per hari per orang. Lalu, sekarang “sumber air su dekat? Dirgahayu NTT ke 60. Semoga sumber air semakin dekat !Wallahu’alam