Pandir dan Reaktif

by -568 views

By : Munir S

Akhir-akhir ini, purbasangka publik tengah menyala-nyala. Ulama dibantai, ustat dianiaya, lalu penceramah (da’i) diintimidasi. Pendeta dijegal, ibadah minggu berlumur darah. Cuma sayangnya; nalar investigasi negara hanya sampai pada spekulasi orang gila. Betapa ngerinya, bila kita membayangkan tentang teori kolone kelima, bahwa lemahnya kekuatan intelejen suatu negara; menjadi ciri utama akan hancurnya negara tersebut.

Dalam kondisi itu, negara seperti hilang akal, menjadi pandir dan bergumam di balik drama orang gila. Bahkan negara tampil reaktif merespon. Bayangkan orang yang hilang akal, yang bisa dilakukan hanyalah sikap-sikap reaktif tanpa nilai.

Akademisi, sekaligus kritikus Dr. Rocky Gerung berseloroh; kegilaan sesungguhnya adalah orang yang berada di balik orang gila dalam kasus teror meneror itu. Berbagai kasus tersebut, menyulut isu agama jelang pilkada serentak 2018.

Eksplosi politik agama yang terus disulut melalui rekayasa intelejen; menjadi ancaman serius bagi unitarisme keindonesiaan. Indonesia bisa saja eksplosif berkeping-keping dalam nalar kekuasaan yang pandir dan reaktif. Indonesia bisa saja kelak menjadi nama yang hanya dikenang dimasa-masa yang akan datang.

Tempo di reality show paling bergengsi, terkuaklah institusi pemilu mensabotase isi ceramah agama. Menebar selebaran: berisikan ceramah atau khutbah ala pemilu non SARA. Inilah kegagapan demokrasi yang paling menggelikan.

Bahwasanya demokrasi bukanlah demokratisme yang dipaksakan. Jangan sampai; demokrasi yang terlalu dipaksakan; bisa menjadi “radikalisme berdemokrasi.” Negara yang terlalu memaksakan demokrasi menurut seleranya; syahwatnya; bisa dibilang “radikalisme negara.” Ingat, negarapun bisa melakukan radikalisme.

Demokrasi bukan berarti keseragman dalam perbedaan. Demokrasi di Indonesia tumbuh dalam eksplosi sektarianisme yang khas pasca negara orde baru. Baik suku, agama, ras dan golongan. Dengan demikian, politik aliran atau politik Indentitas; adalah suatu keniscayaan alamiah yang tumbuh dari dalam darah dan daging demokrasi kita.

Maka kampanye dan pemahaman tentang demokrasi yang gagap, adalah suatu struktur pikir dan pemahaman yang akan merusaki demokrasi. Semakin kita menginginkan keseragaman dalam demokrasi, semakin kita menebar toksin dalam darah dan daging demokrasi. Percaya tak percaya mari kita lihat ending-nya.

Wallahu’alam

Editor : Jusuf Ahmad AM Fatwa