HMI Baru? (Catatan Fajar)

by -824 views

By : Munir S

Di era 80-an, Islam di Indonesia, mengalami suatu fase dan dinamika pemikiran. Suatu fase, dimana para candikiawan muda Islam yang dipelopori Nurcholish Madjid atau Cak Nur cs; meretas jalan inklusivitas Islam. Melepaskan jubah politik (simbol) Islam dan mendorong perspektif Islam pada bangunan nilai inklusif sesuai tatanan dunia baru pasca perang dingin atau robohnya blok Timur dan Barat. Suatu dikotomi dunia yang oleh Antony Giddens dalam bukunya “Beyond Lift And Right (2003), disebutnya sebagai suatu tatanan dunia yang hanya mampu meratap di atas pusara kemanusiaan. Kemanusiaan gugur di tangan sosialisme dan kapitalisme.

Di era tahun 80-an, Islam di Indonesia mengalami pancaroba world view. Islam dan demokrasi mengalami suatu pola relasi nilai yang saling bersimbiosis. Demikianpun suatu gerakan pemikiran yang menempatkan Islam dan sosialisme dalam suatu relasional yang lebih mencair; saling meng- absorpsi; dan menyuplai.

Dalam pendekatan demikian, maka lahirlah khazanah pemikiran Islam kontemporer yang dikonstruksi dari wolrd view; tata dunia baru. Inilah era yang sering disebut-sebut sebagai revivalisme Islam atau suatu “Great Awakening” Islam.

Suatu gelombang pembaharuan rohani (Islam) yang lebih empirik dan kontekstual. Ada konsensus dan perlawanan; sebagai wujud reaksi terhadap tatanan baru khazanah pemikiran Islam di tanah air. Tatanan dunia baru sebagai “cause of the reaction” khazanah Islam. Memberikan pengaruh luas terhadap khazanah pemikiran Islam Indonesia era 80-an. Terjadinya suatu proses sekularisasi inklusif dalam pemikiran keislaman di Indonesia.

Sekularisasi sebagaimana pemikiran Cak Nur, berbeda dengan konsepsi gerakan Sekularisme yang ingin melepaskan politik dari dominasi dan ortodoksi agama di Eropa pada abad ke 18-19 masehi. Sekulerisasi dalam perspektif kontemporer Cak Nur, adalah suatu pemikiran tentang kosmopolitanisme Islam. Menghela cara pandang konsepsi teologi Islam yang vertikalistik menjadi lebih kosmopolit. Dengan demikian, kesadaran keberislaman mampu mengaktualisasikan segala dimensi nilainya pada seluruh tatanan dunia baru.

Dalam situasi itu, dari sisi khazanah pemikiran Islam kontemporer; terjadi gejolak; dinamika berupa pertentangan-pertentangan terhadap rekonstruksi pemikiran keislaman. Suatu corak baru budaya pemikiran yang memberikan vibrasi luas terhadap aktivisme Islam.

HMI sebagai organisasi mahasiswa yang bersentuhan langsung dengan dinamika revivalisme Islam berikut dinamika pemikirannya, berdampak luas terhadap kultur dan dinamika organisasi. Dus, di masa-masa itu; HMI tumbuh sebagai organisasi kemahasiswaan paling produktif di zamannya dari sisi gagasan.

Setidak-tidaknya; HMI berada dalam bangunan inklusivitas Islam, pasca robohnya bangunan Islam politik yang ditandai dengan pembubaran Masumi. Politik gagasan HMI yang bersemi bersamaan dengan revivalisme Islam, adalah etape emas bangkitnya gagasan besar HMI tentang keislaman dan keindonesiaan.

HMI tidak lahir dan besar dalam suatu rahim pengkultusan politik kekuasaan. HMI tidak lahir dalam suatu surplus politik yang berlebihan. Jelas-jelas, di tahun 1947, HMI lahir dari suatu common enemy; baik kolonialisme ataupun komunisme. Selanjutnya HMI tumbuh dan dewasa dalam pikiran-pikiran besar tentang keislaman dan keindonesiaan. Adapun “Islam Nusantara,” adalah suatu pragmatisasi atau “politik tukar tambah,” sekelompok elit Islam sebagai alat komoditas kekuasaan.

Tidak membumi dan tak memiliki akar sejarah yang kuat sebagaimana paham keislaman dan keindonesiaan HMI.

Pasca Cak Nur, HMI seperti sulit menemukan bentuk otentiknya. Begitu sulit HMI kembali menemukan gagasan-gagasan besar tentang keislaman dan keindonesiaan di era demokrasi pasar dan revolusi digital yang menandakan lahirnya tata dunia baru.

Idealnya, dalam kondisi kekinian tersebut; HMI mengalami benturan keras, agar keislaman dan keindonesiaan menemukan bentuk baru artikulasi aktual. Suatu bangunan keagamaan yang newable dan lebih informatif.

Revolusi Mesir dan negara kawasan Timteng; adalah reaksi terhadap tata dunia baru yang tak lepas dari proxy war. Suatu perang asimetris atau asymmetric warfare; yang merupakan pertempuran dua pihak atau lebih, untuk menguasai aset dan sumber daya, yang juga dilakukan dengan penguasaan nonmiliter atau cara lazim perang dilakukan. Inilah tata dunia baru yang meniscayakan HMI perlu mengerahkan daya intelektualnya untuk memperbaharui kontekstualisasi keislaman dan keindonesiaan.

Di titik inilah, HMI segera mengarahkan proses perkaderannya pada produk pemikiran dan karya. Dalam rangka memproduksi sumber daya manusia HMI yang mumpuni. Yang mampu menerjemahkan kekinian-kekinian dalam arah gerak HMI.

Gagasan-gagasan tentang pembangunan SDM HMI sudah diretas, salah satunya buku “Neouron To Nation,” karya dr Muzzamil Fikri Suadu (salah satu kandidat ketua umum PB HMI di kongres Ambon 2018). Gagasan yang oleh Frances Colón dalam From Neurons to Nation Building (Brandeis Megazine : 2012), disebutnya sebagai pertemuan antara demokrasi dan sains yang dimulai dari kemampuan cara berpikir (gagasan). ***

Editor : Yusuf Ahmad AM Fatwa