Ahmad Yohan; dari NTT Menuju Senayan

by -775 views

Awal-awal perkuliahan, adalah masa yang sulit baginya. Meskipun harga makanan untuk ukuran mahasiswa terbilang murah di Yogyakarta, tapi apa mau dikata, seberapa murah pun harga makanan saat itu, dengan keterbatasan biaya hidup; mereka hanya sesekali menikmati nasi dan lauk. Nasi dan tempo orek, itu sudah cukup mewah saat itu. Kenangnya “waktu itu seiris roti bisa dibagi tiga bersama kedua temannya. Saking begitunya, saat di jalan, ia dan kedua temannya selalu tunduk ke bawah dan menoleh kiri-kanan. Berharap kalau-kalau ada koin uang yang ditemukan sapanjang jalan. Seakan di jalan itu ; mereka berharap ada keajaiban.

Kalau dikenang, kisahnya; seperti film The Goonies. Film dengan sutradara Richard Donner di era 80-an yang mengisahkan; sekelompok orang susah yang harapan hidupnya ditemani fantasi akan adanya harta karun. Tapi begitu adanya, kalau diurut-urut, dari perjalanannya dari Ende hingga Yogyakarta dengan berbagai tantangan yang dilewati. Dengan semua alur kisah; sepertinya ada harapan ke depan yang dirawat dan dikejar dengan semua cara.

Suatu waktu; Yohan pernah disengat rasa lapar yang sangat. Dalam perut keroncongan, ia jalan kaki dari kampus kakaknya di UGM. Jaraknya sekitar 5 km ke kostnya. Dalam perjalanan pulang, ia melihat seorang ibu yang tak sadar uangnya jatuh. Pecahan uang Rp.5000 tercecer. Tak jauh dari jarak ia jalan dan posisi si ibu. Antara berharap dan sedikit ingin menolong, ia menjinjitkan kaki perlahan mendekati tempat uang jatuh. Yohan memungut tiga lembar uang itu dan memanggil si ibu. Namun tak disangka si ibu berjalan setengah lari; agak ketakutan saat dipanggil. Kata Yohan “mungkin si ibu takut, kalau-kalau saya orang jahat.

Wajah Timur saya yang agak sedikit sangar, membuat ibu itu cemas dan lari meninggalkan tempat itu. Saat itu kata Yohan, ia seperti mendadak dapat berkah dari langit. Perut lapar, uang cekak, lalu tiba-tiba menyaku uang Rp,15.000. Setelah memungut uang itu ia bergegas meninggal tempat itu. Berjalan setengah lari dan seterusnya tancap gas meninggalkan TKP. Nilai uang Rp.15.000 saat itu bukan sedikit. Bisa untuk makan berkali-kali plus rokok. Uang itu dipakainya mentraktir kedua temannya di kost yang juga kelaparan.

Masa-masa sulit yang panjang itu dilewatinya semasa kuliah S1 di IAIN dan sebagai aktivis HMI Yogyakarta. Di HMI pun kadang ia rutin memungut Koran dan berkas-berkas administrasi HMI Cabang Yogya yang tak terpakai untuk dijual ke tukang loak. Uangnya dipakai untuk ngopi dan mengalas perut. Menurutnya, masa-masa sulit yang panjang itulah yang membuatnya kuat.

Ditahun 2000, ia akhirnya menyelesaikan gelar sarjana S1 di IAIN Sunan Kalijaga. Ia menulis skripsi tentang reformasi sosial keagamaan di tanah leluhurnya; Lamakera-Flores Timur. Judul skripsinya : Pemberontakan Ata Bodo dan Pengaruhnya Terhadap Perkembangan Pendidikan Agama Islam di Lamakera.

Suatu judul karya ilmiah yang cukup nekat menurut saya. Ia memilih diksi di awal judul skripsi yang sangat provokatif. “Pemberontakan.” Kata yang mewakili sekian kisah perlawanan terhadap penindasan. Oleh mereka yang tertindas, kata ini (berontak/pemberontakan), memiliki derajat heroisme yang tinggi. Kata yang mewakili suatu kelompok masyarakat yang termarginalkan. Lalu dari ketertindasan itu, mereka bangkit melawan. Berontak melepaskan diri dari struktur sosial yang tak adil dan menindas. Sementara bagi mereka kaum feodalis yang dominatif, hegemonik dan penindas, kata ini (berontak/pemberontakan) menjurus pada perlawanan, makar dan mungkin dianggap pengkhianatan terhadap rezim dan kuasa adat yang syah berdasarkan pengakuan kolektif turun-temurun.

Yohan terinspirasi oleh hasil riset tim Ekspedisi Lamakera Kemant-UGM  tentang sejarah pemberontakan kaum Ata Bodo. Hasil riset ini, disampaikan pada acara Seminar Flores dalam Kajian Budaya yang diselenggarakan di Yogyakarta pada tanggal 7 Juni 1997. Karena ia merupakan putra asli Lamakera, maka workshop soal sejarah pemberontakan kaum Ata Bodo, kemudian ini menginspirasikannya melakukan karya tulis ilmiah (skripsi) dengan mengangkat polemik Suku Ata Bodo dan Ata Lebbe pada tahun 1999.

Tentu keinginan menulis skripsi dengan judul demikian, bertujuan, agar diskriminasi masa lalu, tak menjadi stereotype negatif yang membelenggu cara berfikir dan dan bermasyarakat orang Lamakera. Agar tak terus terkungkung dalam stereotype negatif masa lalu. Tentu dengan harapan; masyarakat hanya mengambil legacy masa lalu yang konstruktif. Dengan catatan kaki; “suatu masyarakat; akan sulit maju dan berkembang, bila stereotype negatif masa lalu; secara terus menerus menciptakan blok-blok sentimen klan; kesukuan yang saling menegasikan dan rentan menyulut konflik horizontal.”  Bila ini yang terjadi, maka pembaruan dan kemajuan akan sulit terjadi di Lamakera.

Sekilas, panggilan suku Ata Bodo sendiri lebih pada suatu makna yang agak peyoratif. Relasi suku Ata Bodo dan Ata Lebbe, lebih pada suatu hubungan patron-klien yang a-simbiosis. Ata Bodo yang cenderung inferior dan Ata Lebbe yang dianggap superior. Suku Ata Lebe; mewakili kelompok masyarakat di Lamakera yang terbelakang, tertinggal, miskin dan tak terdidik. Sementara Ata Lebbe, mewakili kelompok masyarakat priyai, terdidik dan mapan secara ekonomi.

Dua pendekatan ini (patron-klien/superior-inferior), membuat dua kelompok masyarakat di Lamakera pada masa lalu terbagi secara diametral. Perlakuan sosial dan adat istiadat terhadap keduanya juga cenderung diskriminatif.

Dalam pendekatan dan kenyataan, masyarakat yang tertindas bukanlah sesuatu entitas sosial yang out there. Bukan suatu entitas yang nun jauh di sana dan tak tertolong. Mereka juga melakukan sejumlah tindakan; yang membiarkan dirinya tertindas secara terus menerus. Pasif pun suatu tindakan. Tindakan pasif. Dengan demikian, tindakan pasif menyebabkan ketertindasan terus menjadi.

Jika membaca skripsi Yohan, maka pemberontakan suku Ata Bodoterhadap dominasi suku Ata Lebbe, adalah suatu kesadaran kritis yang muncul dari kalangan suku Ata Bodo (sebagai yang tertindas). Kesadaran ini muncul, seiring lahirnya kaum cerdik pandai dari kalangan suku Ata Bodo yang mengenyam pendidikan dari Luar Lamakera. Hipotesanya adalah, semakin terdidiknya suatu masyarakat, maka secara gradual, melahirkan kepekaan dan kritisisme dalam mensikapi suatu struktur sosial yang tak adil dan menindas.

Dalam bangunan konsep, dengan pendekatan literasi dari berbagai teori kritik sosial, ia mendekonstruksi diskriminasi kelas berbasis klan; suku tempo dulu, lalu kembali mengkonstruksi, dan menempatkan dikotomi Ata Bodo dan Ata Lebbe dalam suatu relasi dan makna yang lebih melioratif. Dengan catatan, ke depannya, diferensiasi sosial beserta dimanika horisontal yang terjadi di dalamnya, tak mengalami pembengkakan ideologis dan menjadi patologi yang merusak sistem sosial menjadi sangat buruk dan mengalami kerusakan permanen secara turun-temurun.

Dengan skripsinya, hendaknya ia ingin mendamaikan masa lalu dengan masa depan Lamakera yang lebih egaliter, humanis dan berbudaya. Suatu corak masyarakat millennium yang moderen; tapi berpegang teguh pada kearifan lokal sebagai legacy kecerdasan sosial para leluhur dan faunding father Lamakera. Kira-kira seperti masyarakat Jepang; moderen tapi berpegang teguh pada budayanya.

Dengan skripsinya, ia masuk ke dalam suatu lorong sejarah masa lalu yang agak tabuh untuk dijamah. Apa lagi didekonstruksi secara metodologis. Dalam skripsinya, dengan pendekatan oposisi biner; ia menghela berbagai hubungan patron-klien kesukuan dalam pranata masyarakat Lamakera; dan diletakkan dalam suatu telaahan dan kritik pada bagian nilai yang cenderung diskriminatif dan asosial. Dengan maksud, membongkar secara acak dominasi dan atau hegemoni masa lalu berbasis ego kesukuan dan direkonstruksi menjadi lebih egaliter dan humanistik. Suatu masyarakat tanpa kelas, tanpa ada dominasi dan eksploitas satu kelompok terhadap masyarakat lainnya.

Kenang Yohan, dengan skripsi seperti ini, ia seperti keluar dari mainstream. Ia berada di luar kebiasaan. Menerobos kewajaran di Fakultas tempat ia kuliah. Hampir 90% mahasiswa IAIN yang tengah menulis tugas akhir (skripsi); rata-rata menulis soal metodologi pembelajaran di depan kelas. Baginya, skripsi dengan judul sekitar masalah micro teaching tak begitu menantang. Monoton dan membosankan. Dengan skripsi yang mengangkat problem masa lalu di kampung halamannya, ia merasa menjadi sarjana yang lebih bermarwah. Dan setelah sidang, skripsinya diterima oleh para dosen penguji dengan nilai “A.”

Tak selang lama mendulang gelar sarjana, ia pun bertekad mempersunting seorang gadis di kota Gede-DIY yang telah dipacarinya selama lima tahun. Tentu dalam rentang waktu yang panjang itu; ada sekian kisah-kisah indah yang menginspirasikan. Ada ruang kisah antara peluh perjuangan dan keindahan yang bertumpuk-tumpuk dalam cerita panjang kehidupan asmaranya. Tapi mungkin itu kelak ditulis di kemudian hari sebagai kenangan terbaik dalam hidupnya. Dialah sosok perempuan yang kini menjadi ibu dari ketiga putera-puterinya.

Menuju Senayan ***

Di PB HMI, ia kemudian berdialektika dengan kehidupan di Jakarta. Disini pulalah yang membuka ruang interaksinya dengan dunia luar. Baik gerakan-gerakan kemahasiswaan dan berbagai dialektika politik yang singgungan dengan HMI. Selepas HMI, Yohan kemudian melabuhkan pilihannya pada Barisan Muda Penegak Amanat Nasional (BM PAN) sebagai salah satu organisasi ortom muda PAN. Di dalamnya menyimpan kader-kader terbaik partai yang di-exercise melalui dinamika dan perkaderan di BMPAN. 

Perjalanan politik di PAN dan BM PAN seutuhnya ia peroleh dari etape demi etape. Berangkat dari nol. Ia pernah menjadi sekretaris DPC PAN Kota Gede-DIY. Berlanjut sebagai pengurus DPW PAN DIY, kemudian menjadi sekretaris DPW BM PAN DIY, lalu menjadi Ketua DPW BM PAN DIY. Dalam rentang waktu perjalanan politik yang panjang dan dari bawah itulah; ia banyak makan asam garam politik.

Ia melewati periode demi periode PAN sejak berdirinya pada 1998. Kalau saat ini didapuk sebagai Ketua Umum BM PAN pada Kongres V di Jakarta, maka meskipun bukan karier puncaknya di politik; tapi merupakan bagian dari gerak sentripetal perubahan dalam perjalanan politiknya. Tentu arah gerak karier politik ini, berjalan seiring ikhtiar dan skill politik yang dirawatnya di setiap etape.

Ia berada dalam era Ketua Umum PAN sekaligus salah satu faunding father ayahanda Prof.Dr. M Amien Rais, Sutrisno Bachir, Hatta Rajasa hingga Zulkifli Hasan (saat ini). Dalam pergantian periode itu, berbagai dinamika politik; dilewatinya. Baik berskala regional maupun nasional. Dalam etape perjalanannya sebagai kader PAN, ia ada di tiga rezim pemerintahan (Gusdur-Megawati, SBY dan Sekarang Jokowi).

Setidaknya, dari tiga rezim pemerintahan ini, menghela PAN terlibat ke dalam episentrum pergulatan politik nasional. Sebagai kader PAN; mungkin ia tak terlibat dan merasakan dampak politiknya secara vertikal, tapi berbagai dinamika politik nasional dan gerakan politik PAN sendiri, turut membentuk dan membangun kematangan dan skill politiknya. Dari berbagai kesempatan, ia mampu menceritakan perjalanan politik PAN dalam pergulatan politik nasional, hingga ke bagian ceruk politiknya secara detail. Hal ini memberikan tanda, bahwa ia merasakan dan memahami dinamika politik nasional; sebagai bagian momentum tempatnya berproses.

Dengan demikian, saya menangkapnya; baik secara makro maupun mikro; ia turut merasakan dinamika keterlibatan PAN dalam kancah politik nasional. Secara makro mungkin ia bukan  bagian lingkaran atau lapisan inti dari pergulatan politik kekuasaan, tapi secara mikro; efek getar politik gerakan PAN dalam kancah politik nasional; turut memperkuat dan mematangkan pengalamannya dalam berpolitik dalam berbagai bentuk keterlibatan. Setidaknya ia sebagai kader; yang ikut mengambil peran; walau sekecil apapun peran itu di tubuh PAN.

Ia tumbuh  dari dialektika organisasi. Itulah menjadi kekuatannya. Dari Nol ! Dalam berbagai tempat dan waktu, ia selalu mengulang-ulangi pesannya, bahwa “politik tak asal beda, pun tak asal ramai.” Pesan-pesan ini menjadi moral force baginya. Menginjeksi cara pandangnya terhadap politik. Sebab itu; pikiran-pikiran tentang pergerakan partai selalu out of the box.

Ketika ia menggagas jambore BM PAN sebagai imbriologi rekruitmen kader partai. Merekrut dan melakukan ideologisasi kader. Pun menancapkan militansi kepartaian; semua orang pesimis pada idenya. Bahkan ada yang menampik dengan nada sarkastik; kalau ide Jambore kader sulit terwujud. Tapi dalam dua tahun kepemimpinannya; ia mewujudkan jambore BM PAN. Dan kini sudah dilaksanakan di belasan provinsi. Tentu bukan ia seorang diri yang menjalankan gagasan jambore. Tapi ia menciptakan sistemnya Ia menggerakkan sistemnya. Ia memberikan alas visi yang kuat pada gagasan Jambore BM PAN. Dengan alas pijak visi yang kuat itulah, jamboree BM PAN dapat diterima elit PAN. Bahkan di beberapa provinsi, disetarakan dengan Latihan Kader Amanat Dasar (LKAD). Salah satu jenjang perkaderan formal tingkat dasar di Partai Amanat Nasional.

Ia tumbuh dalam kultur aktivis Yogyakarta yang ideologis dan merakyat. Watak inklusivitas yang tergambar dari sejarah namanya, membuat pergaulannya luas menembus batas-batas primordial. Ia diakrabi tanpa melihatnya sebagai identitas primordial tertentu.

Pemilu 2014 adalah masa-masa pencerahannya baginya. Menembus gunung menyeberangi derasnya selat mulut Kumba di Alor NTT dengan pertemuan arus berputar-putar mematikan dan juga laut Flores yang ganas memangsa. Masuk ke pesisir menanjak ke pedalaman. Masuk ke masjid keluar gereja, menyampaikan pesan inklusifitas Partai Amanat Nasional kepada rakyat NTT yang tabuh pada partai berlogo matahari. Suara sekitar 17 ribu lebih, adalah suatu amanah yang tak pernah dikiranya, dan itu ada di pundaknya hingga kini dan mengantarkannya menuju Senayan.  Dalam beberapa kesempatan, ia berharap, politik dan amanah yang diembannya kini, dapat bermanfaat untuk masyarakat NTT.

Penulis : Munir S

Sumber : Faktual.co.id

Editor : Ahmad Jusuf AM Fatwa