Budak!!!

by -846 views

Oleh : Munir Sara

Lontarapos.com, Jakarta – Di majalah Fikiran Ra’Jat Edisi 11 November 1932 Vol. 20, cover depannya mengintrodusir pikiran Max Hochdorf :

“Moga-mogalah manusia segera mengerti, bahwa ia tidak lahir di dunia dengan pelana di atas punggungnya, yang diduduki oleh seseorang yang dengan sewenang-wenang mencambuk-cambuk pecutannya.”

Selalu saja, di balik kisah perbudakan multinasional, ada ekspansi modal (capital). Perbudakan yang mengalami modernisasi pola dan tindak, tak lagi dalam bentuk banalisme kaum feodal terhadap buruh tani. Atau kekejaman para marsose terhadap kaum pribumi yang dilabeli ekstrimis. Tapi dengan modal; para kapitalis menduduki punggung suatu negeri berdaulat; sambil memecut bokongnya tanpa ampun.

Perbudakan modern juga hadir dalam bentuk modal dan investasi. Diiming-iming investasi puluhan triliun, tapi sebenarnya memberi utang. Dibilang pinjaman lunak (soft loan), tapi syaratnya mencekik batang leher dan menginjak kedua jempol kaki.

Let’s see, suatu waktu, akan tiba juga perbudakan multinasional dengan kedok utang dan investasi. Suatu negara dengan penuh beban hutang yang tak berdaya. Suatu negara yang mengalami perbudakan akut, dimana kaki dan tangannya dipreteli, batang lehernya diinjak pake sepatu kolonial (neo VOC), lalu punggungnya dipecut habis-habisan. Suatu negara yang tak mampu mendongakkan kepalanya sama sekali.

Perbudakan juga selalu bertopeng praktek mafioso ekonomi yang bersekongkol dengan negara. Misalnya, praktek kartelisasi. Sekelompok kecil kera putih yang bersekongkol dengan regulator, lalu dengan praktek mafioso, menguasai sektor-sektor vital suatu negara seperti kedaulatan pangan. Jalur perdagangan domestik dihegemoni habis-habisan. Semuanya nampak di depan mata, tapi kita cuma memelototi tanpa daya.

Harian Kompas dua bulan berturut-turut (edisi Desember 2017 – Januari 2018), mengulas soal defsit beras dan garam. Bahkan tiga edisi harian cetak Kompas membahas soal garam di rubrik ekonominya (Januari 2018). Di dua soal itu, problemnya bukan soal produksi, tapi soal tata niaga. Soal supply and demand.

Saya hakulyakin; pemerintah tau duduk soalnya, tapi selalu merem. Punggung dipecut; “yuk, kamu orang impor atau saya sumbat habis jalur distribusi. Harga mahal dan inflasi, lalu kamu akan jatuh dan mengalami kebangkrutan image politik. Saya yang menguasai jalur pasokan di pasar, kamu orang mau apa?”

Problemnya selalu saja soal jalur distribusi yang tersumbat. Dikuasai sekelompok kecil orang (kartel). Akibatnya pasokan terganggu. Harga terkerek. Pemerintah yang pura-pura dongok lalu mulai “main impor.” Impor impor sapi, impor beras dan impor garam.

Alasannya selalu sama dari musim sebelum iblis pakai sepatu. “Impor lebih murah dari pada mengandalkan produksi dalam negeri.” Jadi naifnya, pemerintah mau main dagang dan cari untung dengan petani di negerinya sendiri. Pantas saja, nilai tuar petani (NTP) selalu rapuh dan mengalami keterpurukan. Itu semuanya karena pemerintahnya berlagak tengkulak pada rakyatnya sendiri. Tak mau rugi? Apa soal?

Toh kalau harga gabah dan garam dalam negeri mahal, daya beli petani bagus. Disparitas kemiskinan di desa dan kota semakin tipis karena petani yang mayoritas tinggal di desa sejahtera. Tak ada alasan kualitas, negaralah yang bertugas mengadvokasi kualitas produksi petani dalam negeri. Bukan melulu impor.

Korupsi kuota impor, adalah tanda yang kuat, bahwa disitu ada kejahatan luar biasa. Ada mafia impor! Ada kekuatan apa yang mendorong pemerintah terus impor pangan? Hanya suatu rezim bermental budaklah yang selalu dipecut agar tunduk pada neo marsose; kapitalis dan komprador !

Editor : Yusuf Ahmad AM Fatwa