Golden Goal Indonesia

by -2,443 views

Oleh Andi Sukmono Kumba

Fritjof Capra dalam The Hidden Connections menulis bahwa, pengalaman mengenai ketidakstabilan kritis yang menuju kemunculan baru (boleh dibaca; keteraturan) biasanya melibatkan emosi-emosi keras, seperti ketakutan, kebingungan, keraguan atau rasa sakit yang menghasilkan krisis eksistensi.

Capra menyertai pendapatnya itu, dengan pengalaman komunitas kecil ahli fisika kuantum pada 1920-an, ketika melakukan penelitian atomik dan sub-atomik. Dalam penelitian tersebut, konsep-konsep dasar dan seluruh jalan pikiran mereka mengalami ketegangan dan krisis yang berkepanjangan, hingga Werner Heinsenberg—salah satu diantaranya—berujar; mungkinkah alam memang begitu absurdnya seperti yang terlihat oleh kita pada eksperimen-eksperimen atomik ini?

Namun usaha itu terus menerus mereka lakukan dengan proses evaluasi yang jujur, hingga berhasil meretas wawasan mengenai hakikat ruang, waktu dan materi serta garis-garis besar paradigma ilmiah baru. Sebuah golden goal! Tapi perlu dipahami, gerak perubahan atas pengalaman ketegangan dan krisis, tidak serta merta berarti keteraturan baru sebagaimana perjuangan ahli fisika di atas.

Dalam konteks negara, Uni Soviet adalah contoh yang baik. Ketegangan dan krisisnya berujung pada keterceraiberain. Lebih tragis, nasib Negeri Saba yang difirmankan Allah SWT dalam Al-Qur’an, (QS Saba’ [34]: 15-17). Negeri yang berlimpah sumber daya alam, berakhir musnah dalam sekejap oleh azab banjir yang ditimpahkan-Nya. Pertanyaannya, bagaimana dengan Indonesia?

Mungkinkah tumpukan ketegangan dan krisis yang kita alami sebagai masyarakat bangsa berujung pada keteraturan baru? Dalam kondisi yang serba meragukan dan saling tidak jujur saat ini, nasib Uni Soviet, pun Negeri Saba, tentu menjadi bagian dalam kemungkinan “hari esok” Indonesia.

 Apakah Indonesia Itu?

Pertanyaan ini sudah sangat tua, tapi harus dilihat kembali dalam—meminjam pemikiran Alvin Tovler—filter kebenaran ilmiah. Dalam kerangka ini, pertanyaan tua di atas boleh dinyatakan kembali menjadi; apa saja karakteristik yang mendefinisikan secara tegas Indonesia sebagai negara-bangsa yang merdeka dan berdaulat?

Penelurusan reflektif ini penting karena Indonesia bukanlah warisan sejarah yang taken for granted dan statis, melainkan sebuah identitas yang dibangun secara sadar. Artinya, bicara tentang Indonesia, berarti bicara soal bangsa yang konstruktif dinamis, serta berkemampuan menakar, memperbaiki dan memperbaharui sejarahnya dalam kontinuitas kesadaran diskursif. Jauh dari  imagined-community, yang bertahan sejauh bisa dibayangkan.

Belum tercapainya jati diri keindonesiaan setelah sekian lama kita ber-Indonesia serta rapuhnya fondasi yang mapan untuk mandiri dan mengembangkan diri (nation and character building) sebagai sebuah negara-bangsa merupakan konsekuensi logis atas absennya kesadaran tersebut.  Chaeril Anwar jauh hari mencemaskan semua itu, ketika ia bertanya melalui pahlawan yang gugur antara Kerawang dan Bekasi. Untuk apakah kematian dalam perjuangan itu? Apakah untuk sebuah cita-cita atau, tanyanya “tidak untuk apa-apa?”

Salah satu akar dalam kecemasan tersebut adalah kompleksitas masalah sosial politik. Jared Diamond (2005) dalam Collapse: How Society Choose to Fail or Survive?, memaparkan bahwa, buruknya penyelesaian krisis melalui kerangka institusi politik, ekonomi, sosial, dan nilai budaya, merupakan satu dari lima faktor yang menyebabkan runtuhnya peradaban manusia. Di Indonesia, fakta keburukan itu dapat dilihat dalam banyak hal. Mulai dari disonansi komunikasi politik para politisi, kisah tragis TKI dalam mengais rezeki di negeri orang, dominasi produsen dan merk asing yang mengeruk keuntungan dari semua jenis sumber daya nasional (Sumber Daya Alam, Sumber Daya Buatan dan Sumber Daya Manusia), dan seterusnya. Maka, disinilah pentingnya keinsafan tujuan ber-Indonesia, untuk mencetak golden goal (baca; tatanan kehidupan sebagaimana yang dimaksud dalam lima butir Pancasila).

Golden goal Indonesia

Sebenarnya golden goal Indonesia, telah dikampanyekan oleh berbagai kalangan. Paling sering dilakukan partai dan elit politik menjelang Pemilu. Pun, oleh kelompok gerakan progresif yang “muntah” akibat bau pesing kekuasaan. Tapi bukankah konsep dan public show untuk maksud tersebut, sudah demikian panjang bila dijejer dalam satu barisan?

Artinya, tidak cukup dengan semua itu. Jauh lebih esensial yang dibutuhkan, selain tindakan nyata yang berdampak positif terhadap masyarakat adalah, cara dalam menggali sekaligus meneguhkan akar sosialnya sendiri yang kemudian diartikulasi bersama oleh seluruh komponen masyarakat. Pada konteks ini, golden goal Indonesia—hemat penulis—dapat dibangun di atas dua prinsip utama, yakni; Pertama, komitmen nasional. Sesungguhnya kita memiliki kemampuan serta sumber daya untuk menciptakan masa depan Indonesia yang lebih baik. Yang menghalangi kita dari membentuk masa depan semacam itu bukanlah mangkirnya gagasan-gagasan yang baik. Namun bermasalahnya komitmen nasional, utamanya elit politik dalam mengambil langkah-langkah kuat yang penting, jelas, dan solutif atas problematika masyarakat dan bangsa.

Kedua, sinergitas. Buruknya pengelolaan negara, mesti dibijaksanai sebagai panggilan untuk mewujudkan kebaikan hidup bersama sebagai masyarakat bangsa. Sinergitas inilah yang dapat menggerakkan kearifan untuk melipat rapi tiga dikotomi besar dalam kehidupan politik Indonesia, masing-masing; sipil-militer, jawa-luar jawa dan yang terakhir (ini daftar baru) tua-muda. Kearifan ini, sekaligus berarti transformasi etika kewajiban menuju etika kebajikan.

Melalui penjabaran kata kunci inilah, golden goal Indonesia dapat dicetak. Pertanyaannya, apakah misi ini possible atau impossible? Ahli fisika kuantum di atas, juga kocar-kacir dan nyaris frustasi. Tapi mereka bekerja atas nama cinta. Bukan penghormatan, apalagi kekuasaan. Melalui pintu ini pula, pertanyaan Chaeril Anwar dalam sajaknya itu dapat dapat kita jawab tegas; semua kematian itu, memang untuk sebuah cita-cita. Amin!

Penulis adalah pendiri RILIS.ID Situs berita politik Indonesia