K2PU: Hukum Ekonomi Bukan Lagi Jaminan Harga Stabil

by -635 views

RILIS.ID, Batu— Ketua Kelompok Kajian Pengembangan UKM (K2PU) Fakultas Ilmu Administrasi Universitas Brawijaya (FIA Unibraw), Kusdi Raharjo, mengatakan bahwa stabilitas harga tak semata-mata disebabkan hukum ekonomi tentang penawaran dan permintaan.

Pernjelasan ini sejalan dengan pernyataan Direktur Jenderal (Dirjen) Hortikultura Kementerian Pertanian (Kementan), Spudnik Sujono dalam seminar “Peningkatan Efisiensi Rantai Pasok Bawang Merah untuk Mewujudkan Stabilitas Pangan dan Harga” di Batu, Jawa Timur, Kamis (2/11/2017).

Kusdi menambahkan keterangan itu berdasarkan hasil kajian K2PU terkait gejolak bawang merah di Nganjuk dan Probolinggo pada 2013. Padahal, kala itu dua daerah tersebut merupakan sentra produksi dan sedang panen raya.

“Kenaikan produksi plus impor, sehingga pasokan cukup besar. Pertanyannya, kenapa di 2013 terjadi fluktuasi tinggi? Aneh​​nya, saat masa panen raya di Nganjuk dan Probolinggo. Itu, kan jadi aneh. Berdasarkan analisis kami, tidak semata-mata dibentuk oleh aspek supply-demand,” urainya.

Menurutnya, gejolak harga pangan turut dipengaruhi perilaku oportunistik pelaku. Umumnya, mereka menyiasati aliran informasi. Salah satu alasannya karena informasi menjadi dasar menjual atau membeli suatu komoditas pangan.

“Mengapa perilaku oportunistik terjadi dalam rantai pasok? Itu bisa terwujud, kalau rantai pasok didesain dari awal, bukan terbentuk secara alami,” papar Kusdi.

Dia menambahkan, perilaku oportunistik terjadi di Indonesia, karena rantai pasok komoditas hasil pertanian di negara berkembang cenderung panjang, multilayer, teknologi informasi sederhana.

“Jadi, di sini dengan kondisi seperti ini, maka koordinasi antarpelaku tidak ada atau rendah. Sehingga, koordinasi akan sulit, mendorong informasi asimetris, tak seimbang. Dampaknya, memunculkan ketidakberdayaan manajerial,” pungkasnya.