​Bank Dunia Puji Capaian Produksi Beras Indonesia

by -782 views

RILIS.ID, Jakarta— Bank Dunia (World Bank) memuji capaian produksi beras Indonesia, selain India dan Filipina. Sebab, produksinya baik dan mampu memasok kebutuhan masyarakat, meski dilanda musim kekeringan panjang pada 2017.

“Kondisi di India, Indonesia, dan Filipina tetap baik, karena konsumsi global diperkirakan akan tetap konstan, rasio stock-to-useterlihat mencapai angka tertinggi kurun waktu 11 tahun terakhir, yakni setara 30 persen,” ujar CEO Bank Dunia, Kristalina Georgieva, saat mengumumkan outlook perkiraan produksi beras 2018, Kamis (26/10/2017).

Meski demikian, Bank Dunia menilai, terjadi penurunan signifikan produksi beras secara global, yakni 489 miliar metrik ton (mmt) di 2017-2018 atau setara 3 mmt lebih rendah dibanding musim lalu. “Penurunan ini terutama menanggapi kondisi iklim di Indonesia dan beberapa negara produsen Beras Asia, terutama Cina, Thailand utara, dan Vietnam,” bebernya.

Mengenai kondisi pasokan beras, menurut Bank Dunia atas Indeks Harga Pertanian, tidak berubah pada 2017 dari tahun sebelumnya. Namun, diperkirakan terjadi penaikan moderat sebesar satu persen pada 2018.

“Harga Beras sedikit lebih tinggi, tetapi harus diantisipasi pada 2018. Namun, pola cuaca yang kondusif, terpenuhi dengan baik, dan diperkirakan pasar makanan global aman. Juga menyiratkan ketersediaan pangan yang memadai di mana-mana,” beber Georgieva.

Indonesia diketahui berhasil swasembada beras sejak 2015, karena produksi melampaui kebutuhan nasional. Alhasil, sejak saat itu tak ada impor beras, seperti tahun 1984. Prestasi serupa terjadi untuk tiga komoditas lain, bawang merah, cabai, dan jagung. Bahkan, Indonesia sudah mengekspor komoditas-komoditas tersebut ke sejumlah negara tetangga.

Capaian tersebut tak lepas dari dikerjakan amanah Presiden Joko Widodo oleh Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman, agar melibatkan sejumlah instansi. Misalnya, melibatkan TNI untuk menggerakkan petani demi meningkatkan produksi gabah, jagung, bawang, kedelai, kopi, karet, kelapa sawit, lada, dan sebagainya.

Namun demikian, Menteri Amran menjanjikan, Kementan bakal terus bekerja keras untuk merealisasikan visi Lumbung Pangan Dunia 2045 melalui berbagai program. Contohnya, membuka lahan-lahan tidur di desa-desa hingga daerah perbatasan, agar menjadi lumbung pangan Indonesia baru serta terjadi swasembada keberlanjutan.

Gandum dan Jagung
Departemen Pertanian Amerika Serikat (United States Department of Agriculture/USDA) juga memperbarui persediaan produk hasil pertanian global secara gabungan, yakni stok awal ditambah produksi berbagai komoditas hasil pertanian, seperti gandum, jagung, dan beras. Diproyeksikan stok mencapai 2.896 mmt pada musim ini atau 8 mmt lebih rendah dari 2016-2017, akibat menurun produksinya.

Sementara, keuntungan komoditas kedelai, minyak kedelai, dan inti harga sawit minyak juga diimbangi penurunan produksi kelapa sawit dan minyak kelapa, karena melimpahnya stok di negara produsen terbesar di dunia, Indonesia dan Malaysia.

Untuk produksi minyak nabati, cukup prospek, lantaran tetap menguntungkan, menyusul penurunan produksi secara tajam pada 2015-2016 akibat El Nino. Konsumsi pasar global untuk minyak nabati paling banyak dari kelapa sawit, kedelai, dan minyak lobak.

“Diperkirakan produksinya mencapai 192 mmt, lebih besar 5 persen dari musim lalu dan kumulatif 10 persen di atas 2015-2016,” demikian bunyi laporan USDA.

“Lebih dari separuh pertumbuhan produksi diperkirakan berasal dari minyak sawit, yang diproduksi Indonesia dan Malaysia. Argentina, Brasil, dan Amerika Serikat, termasuk di antara produsen utama minyak kelapa,” tambahnya.

Meski mengalami pelemahan marjinal di musim ini karena sebagian besar negara mengurangi luas tanam pada musim kemarau ekstrem, tapi stok gandum tetap mencukupi kebutuhan konsumen.

Kejadian Terburuk
Sementara itu, kasus kekeringan di Afrika timur merupakan kejadian terburuk dalam kurun waktu 60 tahun terakhir. Akibatnya, petani di Ethiopia, Kenya, dan Somalia, gagal panen. Bahkan, mengakibatkan ancaman kelaparan sangat parah. Kondisi tersebut diperparah konflik saudara di Nigeria, Sudan Selatan, dan Yaman, yang mendorong jutaan orang pergi mencari makanan secara darurat.

Dengan demikian, ketahanan pangan di daerah tersebut terus memburuk, sementara curah hujan menjelang akhir 2017 ini dan 2018 diproyeksikan di bawah rata-rata biasanya.

“Maka itu, sangat dibutuhkan jaring sistem peringatan dini. Memperkuat kemungkinan kelangkaan bahan makanan. Ini terkait langsung dengan keamanan negara, cuaca, serta tingkat harga komoditas pangan global,” tutup laporan USDA.